Agrokompleks Long Buang Bidik Pangan hingga Ikan Endemik

  • 11 Agt 2026 23:44 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor : Pengembangan kawasan agrokompleks di Desa Long Buang, Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membangun sistem ekonomi desa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Konsep tersebut menjadi bagian dari proyek percontohan Integrated Area Development (IAD) Lanskap Kayan melalui Sekolah Lapangan Agrokompleks yang dikunjungi Bupati Bulungan Syarwani, bersama Wakil Bupati Kilat, Rektor Universitas Kaltara (Unikaltar) Dr. Didi Adriansyah, S.TP., dan Guru Besar Tani Nelayan Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M.Sc., Senin (10/8/2026) lalu.

Program yang melibatkan 30 pemuda dari 10 desa tersebut dirancang untuk menggabungkan pertanian, perkebunan dan perikanan dalam satu kawasan produktif.

Bupati Syarwani menilai potensi lokal harus dikelola lebih serius. Masyarakat tidak boleh hanya menjual hasil alam dalam bentuk bahan mentah, karena nilai ekonomi terbesar justru dapat diperoleh melalui pengolahan dan hilirisasi.

Pengembangan kakao menjadi salah satu contoh yang didorong pemerintah. Komoditas tersebut tidak hanya diarahkan untuk dijual dalam bentuk biji, tetapi dikembangkan hingga menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Syarwani menyebut Desa Pejalin dan Antutan telah menunjukkan langkah tersebut dengan mengolah kakao menjadi bubuk siap konsumsi.

Model serupa, menurutnya, dapat diterapkan di Kecamatan Peso untuk komoditas yang sesuai dengan kondisi geografis setempat, termasuk kopi dan kakao.

“Jangan hanya menjual hasil panen. Kita harus berpikir bagaimana hasil tersebut memiliki nilai tambah sehingga keuntungan yang lebih besar tetap berada di masyarakat,” tegasnya.

Tidak berhenti pada pertanian dan perkebunan, kawasan agrokompleks juga diarahkan mengembangkan sektor perikanan.

Pemerintah Kabupaten Bulungan meminta Dinas Perikanan memberikan perhatian terhadap potensi ikan lokal yang terdapat di aliran Sungai Kayan. Beberapa jenis ikan yang didorong untuk dikembangkan antara lain ikan Mit, Pelian, Badak dan Kalo atau gurame air tawar.

Khusus ikan Kalo, Syarwani menilai komoditas tersebut memiliki potensi strategis karena berdasarkan studi di Tanjung Palas Barat, keberadaannya tergolong langka dan tidak banyak ditemukan di wilayah lain di Indonesia.

“Terkait ikan Kalo, hasil studi menunjukkan spesies ini sangat langka. Karena itu, domestikasi dan budidaya lokal sangat penting untuk menjaga keberadaannya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pengembangan ikan lokal tersebut juga dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kekayaan hayati Sungai Kayan agar tidak sekadar menjadi potensi alam yang tidak memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Di sisi lain, pola pembelajaran di Sekolah Lapangan tidak terlalu banyak berkutat pada teori. Delapan kali pertemuan yang dijadwalkan harus diarahkan pada metode learning by doing, sehingga peserta langsung belajar mengelola lahan, menggunakan peralatan dan memahami proses produksi.

Menurutnya, perbedaan latar belakang pendidikan tidak boleh menjadi alasan untuk menghambat program. Yang paling penting adalah kemauan belajar dan keseriusan peserta untuk mengembangkan potensi desa.

Pemkab Bulungan juga memastikan keberlanjutan program akan dikawal setelah pelatihan selesai. Pemerintah akan melibatkan kepala desa untuk menyediakan lahan produktif yang dapat menjadi lokasi praktik sekaligus pusat pengembangan usaha bagi alumni Sekolah Lapangan.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari arah pembangunan Bulungan yang mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat dan dunia usaha.

Pemkab Bulungan menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sebagai inisiator sekaligus penyusun desain dan kurikulum Sekolah Lapangan, serta PT Gawi Plantation, tokoh agama, camat, kapolsek, kepala desa, kepala adat dan tokoh masyarakat yang mendukung program tersebut.

"Agrokompleks Long Buang harus dibangun sebagai model yang dapat direplikasi di wilayah lain. Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan lahan percontohan, melainkan menciptakan desa yang mampu mengelola potensi pertanian, perkebunan dan perikanan secara produktif, berkelanjutan dan memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat," pungkasnya. (rln)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....