Dosen UBT Terapkan Teknologi RAS untuk Tingkatkan Usaha Budidaya Lele di Tarakan
- 13 Jul 2026 09:20 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan - Tim dosen Universitas Borneo Tarakan (UBT) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas produksi dan manajemen usaha Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Raja Ikan di Kelurahan Kampung Empat, Kota Tarakan.
Program tersebut bertajuk “Peningkatan Manajemen Usaha Pokdakan Raja Ikan melalui Teknik Pendederan Benih Ikan Lele Berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS)”.
Kegiatan ini memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Kontrak Induk Nomor 145/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Kontrak Turunan Nomor 007/UN51.9/SP2H/PKM/2026.
Tim pelaksana diketuai oleh Miska Sanda Lembang, M.Si., dosen Program Studi Akuakultur UBT. Anggota tim terdiri atas Noerman Adi Prasetya, M.T., dosen Program Studi Teknik Sipil, dan Rusdy Setiawan, M.E., dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan.
Kolaborasi lintas disiplin ilmu diharapkan membantu mitra tidak hanya dari sisi teknologi budidaya, tetapi juga dalam pembangunan sarana, pengelolaan produksi, pencatatan usaha, dan peningkatan pendapatan kelompok.
Pokdakan Raja Ikan merupakan kelompok masyarakat yang berfokus pada budidaya ikan lele. Salah satu kendala yang dihadapi kelompok adalah tingginya kebutuhan air dan sulitnya menjaga kualitas air selama proses pendederan benih. Pendederan merupakan tahap pemeliharaan benih ikan lele dari ukuran kecil hingga mencapai ukuran yang lebih kuat dan seragam sebelum memasuki tahap pembesaran. Pada fase ini, kondisi kualitas air sangat mempengaruhi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim dosen PKM UBT menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System atau RAS. Teknologi ini membuat air dari kolam budidaya digunakan kembali setelah melewati proses penyaringan. Air yang mengandung sisa pakan, kotoran ikan, dan bahan organik dialirkan menuju unit filtrasi, kemudian dikembalikan ke dalam kolam. Sistem tersebut diharapkan mampu mengurangi penggunaan air, menjaga kondisi lingkungan budidaya, dan meningkatkan sintasan benih ikan lele.
Pelaksanaan program dimulai dengan kegiatan sosialisasi pada Mei 2026. Sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan tujuan program, prinsip kerja RAS, teknik pendederan benih, pengelolaan pakan, serta pentingnya pemantauan kualitas air. Setelah sosialisasi, tim bersama mitra melanjutkan pembangunan kolam beton.
Pembangunan kolam tersebut diselesaikan pada Juni 2026 dengan memperhatikan kekuatan konstruksi, aliran air, sistem pembuangan, dan penempatan unit filtrasi. Pada Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pemasangan instalasi RAS dan penebaran benih ikan lele. Instalasi meliputi pompa, jaringan perpipaan, media filter, dan sistem aerasi untuk membantu menjaga sirkulasi serta ketersediaan oksigen di dalam kolam.
Ketua tim pengabdian, Miska Sanda Lembang, mengatakan penerapan RAS diharapkan dapat meningkatkan efisiensi budidaya dan memperbaiki tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele. “Melalui sistem RAS, air budidaya dapat terus disirkulasikan setelah melalui proses penyaringan. Kondisi air yang lebih stabil diharapkan dapat mendukung pertumbuhan benih dan mengurangi risiko kematian selama tahap pendederan,” kata Miska.
Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pembangunan kolam dan instalasi, tetapi juga oleh kemampuan anggota kelompok dalam mengoperasikan serta merawat sistem secara mandiri. Karena itu, anggota Pokdakan Raja Ikan juga mendapatkan pendampingan mengenai teknik operasional dan analisis usaha. Keterlibatan dosen Teknik Sipil mendukung pembangunan kolam dan jaringan sirkulasi agar berfungsi secara aman dan efektif. Sementara dosen Ekonomi Pembangunan memberikan penguatan dalam aspek pencatatan keuangan, analisis biaya produksi, pengelolaan usaha, dan perencanaan keberlanjutan kelompok.
Serah terima kolam RAS kepada Pokdakan Raja Ikan direncanakan berlangsung pada awal Agustus 2026. Dalam kegiatan tersebut, tim juga akan menyerahkan sejumlah sarana pendukung berupa alat ukur kualitas air, pakan ikan, bak sortir, buku panduan untuk mitra, dan standar operasional prosedur atau SOP budidaya ikan lele berbasis RAS. Alat ukur kualitas air akan digunakan untuk membantu kelompok memantau kondisi lingkungan pemeliharaan. Sementara bak sortir berfungsi memisahkan ikan berdasarkan ukuran guna mengurangi persaingan pakan dan risiko kanibalisme. Buku panduan dan SOP disiapkan sebagai pedoman bagi kelompok dalam melakukan persiapan kolam, pengoperasian instalasi, penebaran benih, pemberian pakan, pemantauan kualitas air, pembersihan filter, penyortiran, serta pencatatan produksi.
Ketua Pokdakan Raja Ikan, Sadirun, menyambut baik program tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada DPPM Kemendiktisaintek dan Universitas Borneo Tarakan atas dukungan sarana dan pendampingan yang diberikan. “Program ini sangat membantu kelompok kami. Kami berharap kolam RAS dan peralatan yang diberikan dapat meningkatkan keberhasilan pendederan serta mendukung keberlanjutan usaha anggota,” ujar Sadirun.
Peningkatan produksi ikan lele dinilai berpotensi memperkuat penyediaan sumber protein hewani bagi masyarakat. Selain dipasarkan kepada konsumen dan pelaku usaha kuliner, ikan lele juga dapat dikembangkan sebagai bahan pangan untuk mendukung program penyediaan makanan bergizi, termasuk Makan Bergizi Gratis. Melalui kegiatan ini, Universitas Borneo Tarakan berupaya memperkuat penerapan teknologi tepat guna di sektor perikanan budidaya. Kolam RAS di Pokdakan Raja Ikan diharapkan menjadi contoh sistem budidaya hemat air, produktif, dan berkelanjutan bagi kelompok pembudidaya lain di Kota Tarakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....