SD Negeri di Solo Sepi Peminat, Disdik Pertimbangkan Regrouping

  • 03 Jul 2026 18:53 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat Sekolah Dasar negeri di Kota Surakarta pada tahun ini diwarnai dengan fenomena penurunan pendaftar yang sangat drastis. Berdasarkan data Dinas Pendidikan pada hari Jumat, 3 Juli 2026, hampir separuh kuota kursi yang tersedia di berbagai sekolah tidak terisi oleh peserta didik baru.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dwi Ariyatno, memaparkan jumlah pendaftar SD negeri tahun ini meleset jauh dari target awal yang dicanangkan. Dari total keseluruhan daya tampung sebanyak 5.019 kursi, jumlah pendaftar yang masuk hanya menyentuh angka 3.927 anak, dan yang secara resmi diterima baru mencapai 3.857 siswa.

"Jadi sejak awal itu yang lamar atau yang mendaftar itu berkurangnya hampir 50 persen. Jadi pastinya hampir banyak sekolah SD yang kemungkinan tidak akan terpenuhi secara utuh kuotanya," ujar Dwi, Jumat, 3 Juli 2026.

Menurunnya minat pendaftar ini memicu dugaan adanya pergeseran pilihan masyarakat menuju sekolah swasta atau adanya tren penurunan angka kelahiran anak usia sekolah dasar di Surakarta.

Pihak dinas berencana untuk menyelaraskan data mereka dengan angka kelahiran dari Badan Pusat Statistik guna mengetahui penyebab pasti berkurangnya siswa ini.

Menghadapi potensi banyaknya ruang kelas yang kosong, Dinas Pendidikan Kota Surakarta telah menyiapkan sejumlah opsi strategis untuk menjaga efisiensi proses belajar mengajar.

Salah satu opsi utama yang sedang dipertimbangkan untuk tahun ajaran ke depan adalah melakukan penyusutan jumlah kelas paralel hingga wacana penggabungan sekolah atau regrouping.

"Kalau kira-kira bisa, beberapa tempat itu kita regroup dengan catatan kapasitasnya bisa diciutkan atau dikembangkan dengan jumlah lahan yang memungkinkan. Kalau tidak, ya disusutkan kelasnya," kata Dwi.


Langkah evaluasi pasca-seleksi ini nantinya akan menjadi landasan kuat bagi pemerintah kota untuk memetakan sebaran anak usia sekolah secara lebih akurat.

Pemetaan ini diharapkan dapat menghadirkan ekosistem pendidikan dasar yang efektif tanpa membuang alokasi anggaran pada unit kelas yang kekurangan peserta didik. (Dania)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....