Progres Fisik Sekolah Rakyat Sragen Dikebut, Peminat Jenjang SD Masih Minim

  • 16 Jun 2026 11:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN — Progres pembangunan kompleks Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Sragen yang berlokasi di Kecamatan Mondokan kini telah mencapai kisaran 80 persen hingga pertengahan Juni 2026. Meski diklaim sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia secara akselerasi, proyek ini dikejar target besar untuk bisa beroperasi pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027 yang dimulai Juli mendatang.

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengungkapkan bahwa target utama penyelesaian fisik bangunan sebenarnya jatuh pada bulan Juli. Namun, pemerintah daerah berharap percepatan bisa maksimal di sisa waktu bulan Juni ini. Jika nantinya pembangunan belum rampung 100 persen saat tahun ajaran baru dimulai, pihak pemkab sudah menyiapkan skenario alternatif.

"Targetnya itu kan sebenarnya bulan Juli harus sudah selesai. Nah, kalau belum selesai ya harus memakai yang lama dulu, di sekolah transisi, di tempat yang transisi itu," ujar Bupati Sigit Senin 15 Juni 2026.

Di balik kejar target pembangunan fisik, tantangan besar justru muncul dari sektor penjaringan peserta didik baru, khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Kontras dengan jenjang SMP dan SMA yang diminati tinggi, pendaftar untuk jenjang SD justru bergerak sangat lambat.

Data terakhir menunjukkan, kuota untuk jenjang SMP dan SMA telah memenuhi target. Masing-masing jenjang berhasil menjaring sekitar 90 siswa, yang nantinya akan dibagi ke dalam tiga rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas 30 siswa per kelas.

Sebaliknya, untuk jenjang SD, progresnya sangat tidak signifikan. Dari kapasitas tiga rombel yang disediakan, baru ada 5 calon siswa yang mendaftar hingga pertengahan Juni ini.

Problem Utama Rendahnya Pendaftar SD, kedekatan emosional antara orang tua dan anak usia dini. Banyak orang tua yang mengaku "tidak tega" melepas anak usia SD mereka untuk bersekolah di Sekolah Rakyat yang menerapkan sistem asrama/semi-asrama.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sragen, Yuniarti, mengungkapkan bahwa target untuk masing-masing jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA) adalah 90 siswa. Jumlah tersebut dibagi ke dalam 3 rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas 30 siswa per rombel.

"Untuk jenjang SMP sudah melebihi kuota. Namun, kami akan menambahkan cadangan sebesar 10% dari kuota utama untuk mengantisipasi proses seleksi dan registrasi ulang. Tapi yang jenjang SD masih minim," ujar Yuniarti, belum lama ini.

Yuniarti menjelaskan bahwa faktor psikologis orang tua dan sistem sekolah menjadi tantangan utama bagi tim penjangkau di lapangan. Sebagian besar orang tua di sekitar lokasi sekolah, khususnya di Kecamatan Mondokan, merasa keberatan dengan sistem asrama (boarding system) yang diterapkan.

Padahal, sistem asrama ini bertujuan untuk pembentukan karakter (character building) anak secara intensif dari bangun tidur hingga tidur kembali.

"Rata-rata orang tua anak SD itu penginnya anak bisa pulang ke rumah setelah sekolah. Banyak yang merasa anaknya masih terlalu kecil untuk dilepas di asrama. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami," kata Yuniarti.

Padahal, menurut Yuniarti jenjang SD di Sekolah Rakyat ini menerapkan sistem multi-entry. Di mana anak kelas berapa pun akan diterima dan diberikan kesempatan untuk belajar. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....