Gugus Bencana Pagerungan Besar Diperkuat Hadapi Kondisi Darurat
- 30 Sep 2026 13:26 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, menghadapi kondisi darurat tidak selalu bisa menunggu bantuan datang. Keterbatasan akses dan jarak dengan pusat layanan membuat kemampuan melakukan penanganan awal menjadi kebutuhan penting.
Kondisi itu menjadi perhatian Gugus Tanggap Bencana Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Kapasitas pengurus kembali diperkuat melalui pelatihan mitigasi kebakaran dan pertolongan pertama kegawatdaruratan, Selasa, 29 September 2026.
Kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan teknis. Pengurus dipersiapkan agar mampu tetap tenang, melakukan tindakan awal, dan membantu masyarakat ketika terjadi kebakaran maupun kondisi darurat lainnya.
Ketua Gugus Tanggap Bencana Desa Pagerungan Besar, Ahmad Sunaini, mengatakan kegiatan tersebut merupakan pelatihan kedua sejak gugus dibentuk pada 2025.
“Ini merupakan pelatihan yang kedua. Kami ingin pengurus memiliki kemampuan dan kesiapan ketika menghadapi kejadian kebakaran maupun kondisi kegawatdaruratan lainnya, sehingga tidak panik dan bisa mengambil tindakan awal dengan tepat,” kata Ahmad.
Menurutnya, kesiapan tersebut sangat dibutuhkan mengingat karakter wilayah Pagerungan Besar sebagai daerah kepulauan. Dalam situasi tertentu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk melakukan pertolongan awal sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Kami bersama pengurus sangat optimis untuk siaga di Pulau Pagerungan Besar untuk melakukan pencegahan kebakaran ataupun bencana ringan lainnya,” ujarnya.
Pelatihan digelar melalui kolaborasi SKK Migas-Kangean Energy Indonesia (KEI) bersama Gugus Tanggap Bencana Desa Pagerungan Besar. Materi diberikan oleh Tim Pencegahan dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Satpol PP Kabupaten Sumenep serta tenaga kesehatan dari KEI.
Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti simulasi penanganan kebakaran dan pertolongan pertama sehingga memiliki gambaran tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.
Camat Sapeken, Hamka, menilai keberadaan gugus tanggap bencana di tingkat desa menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Ia mengapresiasi kolaborasi SKK Migas-KEI dan para relawan dalam mendukung peningkatan kapasitas masyarakat Pagerungan Besar.
“Keberadaan Gugus Tanggap Bencana di tingkat desa ini merupakan terobosan yang sangat bermanfaat. Kami berterima kasih kepada SKK Migas-KEI dan relawan yang telah memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Hamka.
Hamka berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan di wilayah lain. Pemerintah desa di Kecamatan Sapeken juga didorong membentuk kelompok tanggap bencana sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
“Gugus antisipasi kebencanaan seperti ini harus selalu siaga. Untuk itu saya berharap kepada pemerintah desa untuk ikut berpartisipasi mendukung keberlangsungan gugus ini,” katanya.
Ia juga berharap kebutuhan sarana dan prasarana pendukung mendapat perhatian agar kemampuan gugus dalam merespons kondisi darurat semakin optimal.
Manager PGA Kangean Energy Indonesia, Kampoi Naibaho, mengatakan kolaborasi dengan masyarakat Pagerungan Besar merupakan bagian dari kebersamaan yang telah berlangsung lama.
Menurutnya, pembentukan gugus pada 2025 menjadi wadah untuk menghimpun peran masyarakat dan berbagai pihak dalam membangun ketangguhan di wilayah kepulauan.
Kampoi menegaskan, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh harus terus dipraktikkan sehingga menjadi bagian dari kesiapsiagaan sehari-hari.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya pelatihan hari ini, tetapi bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus dipraktikkan dan menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat,” paparnya.
Ia berharap Gugus Tanggap Bencana Pagerungan Besar semakin mandiri dan solid, serta mampu menjadi penggerak kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat.
Salah seorang peserta, Mita, mengatakan simulasi langsung membuat peserta lebih mudah memahami langkah pertolongan yang harus dilakukan.
“Kami bersyukur bisa belajar langsung tentang pertolongan pertama pada korban dalam kondisi kegawatdaruratan, dan pada saat menghadapi kebakaran. Kami juga bisa mengikuti simulasi bersama narasumber dari Damkar,” kata Mita.
Dirinya berharap pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat, keluarga maupun tempat kerja.
“Ilmu ini bisa kami gunakan untuk mengantisipasi maupun menghadapi kejadian kebakaran atau bencana lainnya,” ujarnya.
Penguatan kapasitas tersebut diharapkan membuat Gugus Tanggap Bencana Pagerungan Besar tidak berhenti sebagai sebuah kelompok, tetapi berkembang menjadi kekuatan masyarakat yang mampu melakukan respons awal ketika kondisi darurat terjadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....