UMKM Binaan KEI Pagerungan Besar Dipamerkan di Lokakarya Media SKK Migas

  • 18 Sep 2026 21:32 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Produk UMKM Kerajinan Santigi asal Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, dipamerkan dalam kegiatan Lokakarya Media SKK Migas Jabanusa 2026 di Yogyakarta, Kamis, 17 September 2026.

UMKM tersebut merupakan salah satu mitra binaan Kangean Energy Indonesia (KEI). Keikutsertaan dalam pameran menjadi bagian dari upaya memperluas promosi dan pemasaran produk UMKM dari wilayah kepulauan.

Saat ini, KEI memiliki puluhan UMKM binaan yang tersebar di Kecamatan Sapeken dan Kecamatan Raas. Pembinaan dilakukan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM), khususnya dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kepala Perwakilan SKK Migas Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Anggono Mahendrawan, mengatakan keterlibatan UMKM binaan KKKS dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.

“Ini bentuk dukungan nyata kami agar produk UMKM binaan KKKS dikenal lebih luas. Lewat kehadiran para pimpinan redaksi, kami berharap terjadi promosi silang antarwilayah sehingga pasar mereka makin terbuka dan mandiri secara ekonomi,” ujar Anggono.

Manager Public & Government Affair (PGA) KEI sekaligus penanggung jawab Program PPM, Kampoi Naibaho, mengatakan pengembangan UMKM di wilayah operasi perusahaan menjadi salah satu perhatian KEI.

Ia menyebut pendampingan UMKM dilakukan tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga pemasaran. KEI turut melibatkan tenaga ahli untuk membantu meningkatkan kapasitas pelaku usaha.

“Kami sangat konsen dengan peningkatan ekonomi lokal. Kami melibatkan ahli hingga proses pemasaran,” kata Kampoi.

Salah satu UMKM yang ditampilkan dalam pameran adalah Kerajinan Santigi. Kelompok usaha tersebut memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu, seperti miniatur kapal, miniatur samurai, dan gelang.

Ketua Kelompok UMKM Kerajinan Santigi, Nur Hidayat, mengatakan produknya kini telah dipasarkan ke sejumlah wilayah. Omzet kelompok usaha tersebut mencapai sekitar Rp4 juta per bulan.

“Tiap bulan pasti ada pesanan. Untuk produk tertentu, konsumen dapat melakukan pemesanan sesuai keinginan melalui sistem pre-order. Sementara gelang tersedia dalam bentuk stok. Tapi untuk gelang, stoknya selalu ready,” jelas Hidayat.

Menurut Hidayat, pemasaran produk saat ini masih didominasi secara offline. Kondisi itu dipengaruhi keterbatasan jaringan internet di wilayah kepulauan. Meski demikian, kelompoknya telah mencoba memanfaatkan media sosial, salah satunya Facebook, untuk memperluas pemasaran.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....