BPBD Sumenep Padukan Kearifan Lokal dan Edukasi untuk Mitigasi Bencana
- 17 Sep 2026 19:47 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Kamiludin, menegaskan komitmennya untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis kearifan lokal di wilayahnya. Pasca dilantik pada awal September 2026, BPBD Sumenep langsung bergerak cepat menangani dampak puncak musim kemarau, seperti distribusi air bersih untuk daerah kering kritis hingga penanganan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bersinergi dengan Satpol PP dan Damkar.
Guna menjangkau wilayah kepulauan dan daratan, Kamiludin menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat melalui nilai-nilai gotong royong serta kemampuan membaca tanda alam. Pengetahuan tradisional nelayan dalam membaca arah angin dan cuaca dinilai sebagai potensi besar yang dapat disinergikan dengan sistem peringatan dini BMKG.
“Pendekatan ini menjadi bagian integral dari strategi edukasi kebencanaan yang disesuaikan dengan karakteristik geografis masing-masing daerah,” jelasnya dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Sumenep, Kamis, 17 September 2026.
Sebagai langkah konkret pembentukan ketangguhan dari tingkat tapak, BPBD Sumenep telah membentuk 53 Desa Tangguh Bencana (Destana) dengan melibatkan unsur TNI, Polri, hingga Tagana. Tak hanya itu, pihak BPBD juga tengah merancang program inovatif Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) yang bekerja sama dengan Bagian Kesra.
“Program ini bertujuan membekali santri dan pemuda dengan pengetahuan serta keterampilan mitigasi sebelum bencana terjadi,” tambah Kamiludin.
Selain penguatan kapasitas warga, upaya mendorong pendanaan mitigasi berbasis desa juga mulai dijajaki. Kamiludin berencana mendiskusikan pemanfaatan alokasi Dana Desa bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) sesuai regulasi Permendes.
“Langkah ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan pelatihan relawan lokal serta pembentukan infrastruktur kesiapsiagaan mandiri di setiap desa,” tutupnya.
Kamiludin mengapresiasi kerja keras Tim Reaksi Cepat (TRC) dan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan di tengah puncak kemarau. Ia menekankan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Dengan memelihara budaya saling bantu, Sumenep diharapkan makin siap menghadapi berbagai ancaman bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....