TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo, Merawat Asa di Ketinggian Bukit Bruno
- 13 Agt 2026 18:40 WIB
- Semarang
Warisan Ketulusan yang Mengakar di Sanubari Bruno
Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev), Kolonel Arm Ali Nabhan, S.H., saat melakukan kunjungan pengawasan memastikan seluruh progres pekerjaan berjalan sesuai rencana dengan standar kualitas tinggi. "Diharapkan, pelaksanaan TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo mampu mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pedesaan, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui semangat gotong royong dan kebersamaan,” ucapnya.

Ia menegaskan, keberhasilan Program TMMD tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik. Akan tetapi, juga dari kepedulian masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara hasil pembangunan agar dapat digunakan dalam jangka panjang.
Apresiasi tinggi juga mengalir dari Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., yang memandang TMMD sebagai perwujudan nyata sinergi trilateral yang solid. "Jaga dan manfaatkan seluruh hasil pembangunan ini dengan sebaik-baiknya agar menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ketahanan desa, serta mendorong kemajuan Kabupaten Purworejo dan Jawa Tengah secara berkelanjutan," ucap Gubernur.
Kepala Staf Kodam (Kasdam) IV/Diponegoro Brigjen TNI Mohammad Andhy Kusuma, S.Sos., M.M., M.Han., CFrA, pada penutupan TMMD ke-129 di Desa Watuduwur, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo menegaskan nilai strategis dari pelaksanaan pembangunan dari pinggiran ini. "Membangun desa merupakan strategi pemerintah guna mewujudkan pemerataan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia," ujarnya.
Sinergi yang kokoh antara seluruh elemen pertahanan dan masyarakat terbukti mampu menyelesaikan pekerjaan yang mulanya terhitung mustahil demi kemaslahatan bersama. Kini, sebulan penuh perjuangan fisik dan pikiran telah berlalu meninggalkan warisan berharga di wilayah perbatasan Wonosobo-Purworejo.
Desa Watuduwur tidak lagi dipandang sebagai wilayah terisolasi yang tertinggal di sudut Kecamatan Bruno. Pondasi kokoh telah diletakkan, baik berupa jalan rabat beton yang mulus membelah bukit maupun peningkatan kapasitas intelektual masyarakat yang lebih maju.

Tugas merawat, menjaga, dan mengembangkan hasil pembangunan yang berharga ini kini berada sepenuhnya di pundak seluruh elemen warga desa Watuduwur. Keberhasilan ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang ketika tekad kemanunggalan telah terpatri di dalam dada.
Semangat gotong-royong yang telah menyala di atas awan Bruno akan terus menjadi lentera pembimbing menuju peradaban desa yang lebih sejahtera. Ketika mentari tua bersiap pamit di ufuk barat, ia meninggalkan jejak-jejak pengabdian yang membatu, bukan sekadar semen yang mengeras, melainkan prasasti persaudaraan yang takkan luntur dikikis badai zaman.(Ags)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....