TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo, Merawat Asa di Ketinggian Bukit Bruno

  • 13 Agt 2026 18:40 WIB
  •  Semarang
Menenun Sinergi, Meruntuhkan Dinding Keterpencilan

RRI.CO.ID, Purworejo - Ketika kabut pagi berarak pelan menyelimuti punggung bukit Bruno, ada jejak-jejak ketulusan yang terukir di atas tanah yang berbatu. Sebuah kisah tentang pengabdian tanpa batas, di mana seragam loreng dan keringat rakyat melebur menjadi jembatan peradaban yang memeluk sunyinya tapal batas.

Jauh di pedalaman Kabupaten Purworejo, tepatnya di ujung utara Kecamatan Bruno, terbaring sebuah desa yang seolah tersembunyi dari hiruk-pikuk kemajuan zaman. Desa Watuduwur namanya, sebuah pemukiman yang memeluk erat lereng-lereng perbukitan terjal pada ketinggian mencapai 625 meter di atas permukaan laut.

Di sinilah sunyi bertahta. Berbatasan langsung dengan dinginnya wilayah Kabupaten Wonosobo, kondisi Desa Watuduwur menciptakan sekat-sekat geografis yang menguji keteguhan jiwa para penghuninya.

Karakteristik pegunungan yang ekstrem membentuk formasi tanah naik-turun dengan tebing-tebing curam yang membatasi ruang gerak antar-dusun. Setiap jengkal tanah yang subur di atas ketinggian ini menuntut perjuangan fisik yang luar biasa dari setiap pasang kaki yang melangkah.

Luasan wilayah Desa Watuduwur didominasi oleh perbukitan hijau, tegalan, serta kawasan hutan yang menjadi sandaran hidup warga. Namun, keindahan panorama alam tersebut bertolak belakang dengan ketersediaan infrastruktur penghubung yang memadai sebelum program kemanunggalan masuk.

Selama berpuluh-puluh tahun, akses transportasi yang terbatas telah mengunci potensi besar yang dimiliki desa di tapal batas ini. Jarak sosiologis dan fisik dari pusat pemerintahan Kabupaten Purworejo sejauh 47,7 kilometer menempatkan Watuduwur dalam posisi geografis yang terisolasi.

Jalan menuju desa tersebut menanjak ekstrem, berkelok-kelok tajam, serta diapit oleh jurang-jurang dalam yang mengancam keselamatan. Keterpencilan ini semakin diperparah oleh minimnya fasilitas dasar, yakni ketersediaan air bersih yang stabil.

Di sebagian wilayah desa, terutama Dusun Pasuruan, air bersih laksana butiran permata yang sangat sulit didapatkan ketika musim kemarau mulai menyapa. Selain krisis air, warga Desa Watuduwur juga harus hidup dalam kegelapan komunikasi modern karena ketiadaan jaringan internet yang membuat informasi dari luar berjalan lambat.

Di tengah keterbatasan yang menghimpit, mayoritas penduduk menggantungkan hidup dengan berprofesi sebagai petani tradisional dan peternak. Mereka mengolah tanah tegalan dengan menanam jagung dan palawija.

Goresan Semen Pengubah Takdir Jalur Perbatasan

Menenun Sinergi, Meruntuhkan Dinding Keterpencilan

Sunyi yang mencengkeram Desa Watuduwur akhirnya mulai mencair ketika genderang program lintas sektoral ditabuh oleh jajaran TNI. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke-129 Kodim 0708/Purworejo, secercah cahaya perubahan mulai merambah masuk ke pelosok Bruno.

Program terpadu ini resmi digulirkan sejak tanggal 15 Juli hingga berakhir pada 13 Agustus 2026. Mengusung panji besar “TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa,” kegiatan ini memfokuskan seluruh daya pada pemulihan wilayah perbatasan.

Langkah ini menjadi magnet yang menyatukan ratusan kekuatan personel dari berbagai unsur pertahanan dan kedinasan. Sebanyak 160 personel tangguh diterjunkan langsung, terdiri dari 134 anggota TNI AD, 10 TNI AU, 10 Polri, 6 Pemda, serta didukung penuh oleh 50 warga desa setiap hari.

Satgas TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708 Purworejo dan warga saat bergotong royong membawa adukan semen.(Foto: RRI/Agus Sulistya)

Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setyabudi menyampaikan pandangan mendalam mengenai arti penting kolaborasi di wilayah perbatasan. Ia menegaskan, TMMD merupakan bentuk kolaborasi yang telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Melalui semangat gotong-royong, program ini tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kebersamaan, kepedulian sosial, serta partisipasi masyarakat dalam membangun desa. Pelaksanaan TMMD di Desa Watuduwur diharapkan mampu mempercepat pembangunan, meningkatkan aksesibilitas masyarakat, memperkuat penyediaan sarana dasar, serta mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat," kata Dion.

Kebersamaan yang tercipta selama sebulan penuh meruntuhkan dinding kaku birokrasi antara aparat keamanan dan rakyat sipil. Rumah-rumah penduduk dibuka lebar sebagai tempat singgah bagi para prajurit.

Kondisi tersebut memicu proses asimilasi budaya yang hangat. Tawa dan canda mengiringi setiap beban kerja berat yang dihadapi di lapangan.

Sentuhan Unggulan Kasad: Membasuh Dahaga dan Membedah Rumah Rapuh

Goresan Semen Pengubah Takdir Jalur Perbatasan

Sasaran fisik utama yang menjadi prioritas dalam TMMD kali ini adalah pembangunan infrastruktur jalan penghubung berupa rabat beton. Tak main-main, volume jalan yang dibangun mencapai panjang 1.392 meter dengan lebar 4 meter dan ketebalan semen 0,15 meter.

Jalur ini membentang membelah perbukitan, menghubungkan Desa Watuduwur dengan wilayah perbatasan Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo. Lokasi pembangunan berada di kawasan perbukitan yang terjal dan naik-turun, sehingga menyulitkan akses kendaraan pengangkut material mendekati titik sasaran utama.

Proses pelangsiran material seperti pasir, batu split, dan semen menguras banyak tenaga karena harus melewati jalur menanjak yang sempit. Namun, rintangan itu tidak menyurutkan semangat juang di lapangan.

Satgas TMMD Reguler ke1-29 bersama warga saat melakukan pengerjaan pengecoran jalan.(Foto: RRI/Agus Sulistya)

Warga Desa Watuduwur yang turut membantu pengerjaan pengecoran jalan, Sabar mengaku sangat bangga dapat terlibat langsung. "Kami sangat antusias membantu,” ungkapnya.

Menurutnya, program TMMD sangat bermanfaat bagi warga Desa Watuduwur. “Jalan yang dibangun nantinya akan mempermudah aktivitas masyarakat, kami bersama TNI akan terus bergotong royong hingga seluruh pekerjaan selesai," ucapnya dengan penuh semangat.

Komandan Satgas TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo, Letkol Inf Ketut Hendra Budihardja, menegaskan komitmen korps loreng dalam membuka gerbang isolasi ini. "TMMD bukan sekadar membangun jalan, tetapi membuka jalan perubahan bagi masyarakat desa,” ujarnya.

Dengan akses yang lebih baik, ia berharap mobilitas warga semakin lancar. Perekonomian pun meningkat, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

“Kehadiran TNI melalui TMMD adalah bentuk pengabdian kepada rakyat. Kolaborasi antara personel Satgas dan warga menjadi modal utama dalam menyelesaikan setiap sasaran program secara tepat waktu dan berkualitas," ujarnya dengan tegas.

Guna menjaga kualitas jalan beton dari gerusan air hujan pegunungan, dibangun pula sistem drainase pelengkap. Pemasangan saluran air menggunakan beton pracetak atau Drainase U-Ditch dikerjakan sepanjang 188 meter dengan lebar 0,60 meter dan dalam 0,50 meter.

Saluran ini berfungsi mengalirkan limpahan air hujan agar tidak merusak struktur jalan beton yang baru selesai dibangun, didukung pembangunan fisik tambahan berupa 1 unit Poskamling di Dusun Pasuruan RT 01/02.

Menanam Pengetahuan, Membentengi Jiwa Masyarakat

Sentuhan Unggulan Kasad: Membasuh Dahaga dan Membedah Rumah Rapuh

Di samping pembangunan jalan, program unggulan dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) menjadi penyelamat bagi pemenuhan hak-hak dasar warga. Sektor pemenuhan air bersih diwujudkan secara nyata melalui pembangunan sarana TNI Manunggal Air di 5 titik sumur bor strategis.

Langkah ini diperkuat dengan pengerjaan sistem pipanisasi sepanjang jalur pemukiman Dusun Pasuruan. Progresnya telah mencapai 50 persen.

Kepala Desa Watuduwur, Destriana Fatmiati, S.Pd. aktif memantau jalannya pengerjaan dan memperkuat koordinasi di lapangan agar seluruh sasaran berjalan lancar. Ia menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas seluruh dedikasi yang diberikan oleh personel Satgas di desanya.

"Kami sangat berterima kasih atas program TMMD. Pembangunan sumur bor untuk air bersih di Dusun Suruan (Pasuruan) serta sasaran infrastruktur lainnya yang kini menghidupkan desa kami," ungkapnya dengan haru.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 10 unit menyasar keluarga miskin yang selama ini tinggal di hunian yang rapuh. Dinding anyaman bambu yang lapuk diganti dengan batako kokoh, dan atap bocor diganti dengan genteng baru yang kuat.

Lantai tanah yang lembap disulap menjadi lantai semen yang bersih, kering, dan sehat bagi kesehatan penghuninya. Program renovasi hunian ini berhasil mengembalikan fungsi rumah sebagai tempat berlindung yang aman.

Warga Desa Watuduwur yang menjadi penerima manfaat rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Sariyem mengaku sangat bersyukur. Ia tak mampu menahan haru saat melihat dinding batako rumahnya kini telah kokoh berdiri.

Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan terima kasihnya kepada para prajurit TNI. Kini keluarganya tidak perlu lagi merasa cemas didera ketakutan akan atap bocor atau dinding ambruk saat badai gunung menerjang perkampungan mereka.

Sektor sanitasi dan ketahanan pangan juga diperkuat secara masif melalui pembangunan 5 unit MCK umum di titik pemukiman padat warga. Untuk menunjang pasokan pangan mandiri, Satgas bersama warga membuka lahan Hanpangan Jagung seluas 1 hektar.

Program fisik tambahan ditutup dengan gerakan penghijauan lereng perbukitan dan aksi pembersihan lingkungan secara massal. Langkah ini menjadi upaya menjaga kelestarian alam pegunungan Bruno.

Warisan Ketulusan yang Mengakar di Sanubari Bruno

Menanam Pengetahuan, Membentengi Jiwa Masyarakat

Investasi jangka panjang pembangunan TMMD di Desa Watuduwur juga menyasar pada aspek intelektual melalui rangkaian kegiatan nonfisik. Berbagai penyuluhan terpadu digelar dengan melibatkan para pakar dari kedinasan terkait di lingkungan Pemkab Purworejo.

Warga desa dari berbagai kalangan usia memadati ruang pertemuan di balai desa. Mereka tampak antusias menyerap pengetahuan baru.

Masyarakat Desa Waruduwur, Kecamatan Bruno saat mengikuti penyuluhan yang dilakukan oleh Satgas TMMD bersama Pemdes. (Foto: RRI/Agus Sulistya)

Materi penyuluhan pertama berfokus pada ranah kesehatan, khususnya penyuluhan cegah stunting pada anak dan Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular). Ibu-ibu diajarkan cara mengolah menu makanan sehat seimbang dengan memanfaatkan potensi pangan lokal.

Selaras dengan itu, didistribusikan pula pemberian sembako dan nutrisi kepada ibu hamil dan balita. Program tersebut diharapkan dapat memutus mata rantai masalah gizi.

Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yanuar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., menekankan pentingnya pembangunan mental masyarakat di kawasan tapal batas."TMMD bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga membangun semangat kebersamaan dan gotong royong antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat,” ungkapnya.

Ia berharap seluruh sasaran yang dikerjakan dapat memberikan manfaat yang besar. “Dan meningkatkan kualitas hidup warga Desa Watuduwur," ujarnya,

Penutupan dan peresmian TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708 Purworejo di Desa Watuduwur pada Kamis, 13 Agustus 2026.(Foto: RRI/Agus Sulistya)

Mengingat Watuduwur berada di kawasan pegunungan yang rawan, penyuluhan penanggulangan bencana alam menjadi materi yang sangat krusial. Warga dibekali pengetahuan praktis mengenai tanda-tanda alam sebelum terjadinya longsor serta tata cara evakuasi mandiri yang aman.

Pilar nasionalisme juga diperkokoh. Warga diberi penyuluhan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara guna membentengi masyarakat dari pengaruh paham radikal.

Ranah pendidikan dan digitalisasi birokrasi ditutup dengan penyuluhan pendidikan sektor formal serta sosialisasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Petugas membimbing warga untuk mengaktifkan aplikasi kependudukan digital di gawai mereka masing-masing guna mempermudah akses layanan publik.

Peningkatan kualitas spiritual juga disentuh melalui rehabilitasi total. Ada dua unit tempat ibadah yang direhabilitasi, yakni Musholla Al Ikhlas di Dusun Pasuruan RT 04/02 dan Musholla Al Mujahidin RT 02/02.

Warisan Ketulusan yang Mengakar di Sanubari Bruno

Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev), Kolonel Arm Ali Nabhan, S.H., saat melakukan kunjungan pengawasan memastikan seluruh progres pekerjaan berjalan sesuai rencana dengan standar kualitas tinggi. "Diharapkan, pelaksanaan TMMD Reguler ke-129 Kodim 0708/Purworejo mampu mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pedesaan, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat melalui semangat gotong royong dan kebersamaan,” ucapnya.

Wasev Kolonel Arm Ali Nabhan saat melihat langsung proses pengerjaan TMMD Reguler ke-129 di Desa Watuduwur. (Foto:RRI/Agus Sulistya)

Ia menegaskan, keberhasilan Program TMMD tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik. Akan tetapi, juga dari kepedulian masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara hasil pembangunan agar dapat digunakan dalam jangka panjang.

Apresiasi tinggi juga mengalir dari Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol. (Purn.) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., yang memandang TMMD sebagai perwujudan nyata sinergi trilateral yang solid. "Jaga dan manfaatkan seluruh hasil pembangunan ini dengan sebaik-baiknya agar menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat, memperkuat ketahanan desa, serta mendorong kemajuan Kabupaten Purworejo dan Jawa Tengah secara berkelanjutan," ucap Gubernur.

Kepala Staf Kodam (Kasdam) IV/Diponegoro Brigjen TNI Mohammad Andhy Kusuma, S.Sos., M.M., M.Han., CFrA, pada penutupan TMMD ke-129 di Desa Watuduwur, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo menegaskan nilai strategis dari pelaksanaan pembangunan dari pinggiran ini. "Membangun desa merupakan strategi pemerintah guna mewujudkan pemerataan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia," ujarnya.

Sinergi yang kokoh antara seluruh elemen pertahanan dan masyarakat terbukti mampu menyelesaikan pekerjaan yang mulanya terhitung mustahil demi kemaslahatan bersama. Kini, sebulan penuh perjuangan fisik dan pikiran telah berlalu meninggalkan warisan berharga di wilayah perbatasan Wonosobo-Purworejo.

Desa Watuduwur tidak lagi dipandang sebagai wilayah terisolasi yang tertinggal di sudut Kecamatan Bruno. Pondasi kokoh telah diletakkan, baik berupa jalan rabat beton yang mulus membelah bukit maupun peningkatan kapasitas intelektual masyarakat yang lebih maju.

Anak-anak Desa Waruduwur saat bermain bola di jalan rabat beton hasil pembangunan TMMD ke-129 Kodim 0708 Purworejo. (Foto:RRI/Agus Sulistya)

Tugas merawat, menjaga, dan mengembangkan hasil pembangunan yang berharga ini kini berada sepenuhnya di pundak seluruh elemen warga desa Watuduwur. Keberhasilan ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah penghalang ketika tekad kemanunggalan telah terpatri di dalam dada.

Semangat gotong-royong yang telah menyala di atas awan Bruno akan terus menjadi lentera pembimbing menuju peradaban desa yang lebih sejahtera. Ketika mentari tua bersiap pamit di ufuk barat, ia meninggalkan jejak-jejak pengabdian yang membatu, bukan sekadar semen yang mengeras, melainkan prasasti persaudaraan yang takkan luntur dikikis badai zaman.(Ags)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....