Menyulam Cahaya dari Keterbatasan

  • 29 Mei 2026 19:35 WIB
  •  Sampang

RRI.CO.ID, Bangkalan - Siang itu, Jumat 29 Mei 2026, terik matahari menyelimuti Bangkalan. Namun di teras rumah sederhana Ustadz Muslehel Alam, Dusun Morlorong, Desa/Kecamatan Burneh, suasana terasa sejuk. Angin sepoi-sepoi berhembus, karpet hijau menjadi alas duduk, dan di sanalah seorang tuna netra yang penuh semangat menyambut tamu dengan senyum tulus. Meski tak mampu melihat wajah, ia mendengar salam dengan penuh kehangatan.

Sejak muda, Musleh hanya mengandalkan pendengaran untuk belajar Al-Qur’an. Teman-teman di Pondok Pesantren membacakan ayat-ayat suci, lalu setelah berkeluarga, istrinya yang setia mendampingi. Namun ia sadar, tidak mungkin selamanya bergantung pada orang lain.

“Saya ingin bisa membaca sendiri, tanpa harus selalu dituntun,” ujarnya.

Harapan baru muncul ketika ia mendengar tentang mushaf Al-Qur’an Braille dari siaran televisi.

Dengan tekad, ia mencari informasi hingga akhirnya belajar mushaf Braille dari Semarang. Awalnya bingung dengan titik-titik timbul tanpa panduan, ia nekat berangkat ke kota itu. Hanya dalam seminggu, ia berhasil menguasai huruf latin dan arab Braille.

“Tangan ini belajar meraba, hati belajar percaya,” katanya mengenang.

Sepulangnya, ia terus berlatih hingga lancar membaca Al-Qur’an dengan jemarinya sendiri.

Kembali ke Bangkalan, Musleh bertemu Bapak Sunarto, ketua Pertuni Bangkalan. Dari sanalah kemampuannya semakin terasah. Tahun 2011, ia dipercaya menjadi ketua Pertuni Bangkalan, lalu menjabat ketua ITMI Jawa Timur pada 2016. Ribuan tunanetra pernah ia koordinir dalam kegiatan besar, termasuk bersama Syekh Ali Jaber di ITS Surabaya dan dr. Faida di Jember.

“Keterbatasan bukan alasan berhenti, justru alasan untuk bergerak,” ucapnya.

Musleh juga pernah mengikuti Munas Pertuni di Jakarta tahun 2014, hingga Munas ITMI di Cimahi. Dari kegiatan itu, ia mendapat pengalaman berharga, bahkan sebuah HP Android dari donatur Bob Hasan. Ia juga menggerakkan ribuan tunanetra untuk menerima mushaf Braille dari Kuwait maupun Al-Qur’an digital.

Meski era digital menghadirkan aplikasi suara, Muslehel tetap setia pada Braille.

“Tulisan Braille bisa disimpan. HP bisa rusak, tapi tulisan tetap ada,” ujarnya.

Kini, ia menjadi penyuluh agama di KUA Burneh, Bangkalan, sekaligus wakil talkin Torikoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Benteng Suryalaya. Ia rutin mengisi khutbah Jumat, pengajian, dan majelis taklim. Menariknya, banyak orang normal justru belajar mengaji kepadanya.

“Itu fadhol dari Allah,” katanya dengan rendah hati.

Kisah Muslehl Alam adalah cerita tentang keberanian menembus batas. Dari mushaf Braille pertama hingga kini menjadi penyuluh agama, ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari cahaya yang lebih terang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....