Susur Gang Samarinda Soroti Ketimpangan Akses Pejalan Kaki di Kota Tepian

  • 23 Jun 2026 12:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Gerakan Susur Gang Samarinda terus mengampanyekan budaya berjalan kaki di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Pergerakan yang lahir sejak masa pandemi COVID-19 itu juga menjadi ruang kritik halus terhadap minimnya akses dan fasilitas yang aman bagi pejalan kaki di Kota Samarinda.

Kontributor Susur Gang Samarinda, Wahyu Musyifa, mengatakan pergerakan tersebut berangkat dari keresahan terhadap kondisi ruang publik yang dinilai belum sepenuhnya mendukung aktivitas berjalan kaki. Kondisi itu membuat masyarakat lebih banyak mengandalkan kendaraan bermotor, termasuk untuk mobilitas jarak dekat.

"Di Samarinda sendiri, pejalan kaki yang merasa aman berjalan itu hanya di gang. Akses pejalan kaki di pinggir jalan masih kurang. Makanya kami mengkritisi kondisi itu dengan cara berjalan kaki di gang-gang," katanya dalam obrolan SPADA Pro 2 Samarinda, dikutip Selasa 23 Juni 2026.

Ia menilai keterbatasan infrastruktur pejalan kaki membuat kebiasaan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil tetap tinggi di masyarakat. Bahkan, untuk perjalanan jarak dekat, kendaraan bermotor masih menjadi pilihan utama dalam aktivitas sehari-hari.

"Kampanye yang kami bawa salah satunya mengajak masyarakat berjalan kaki. Masa ke warung yang dekat rumah saja harus naik motor. Padahal jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki," ujarnya.

Sejumlah penelitian mendukung manfaat berjalan kaki bagi kesehatan dan lingkungan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut aktivitas berjalan kaki secara rutin dapat menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, hingga gangguan kesehatan mental. Sementara itu, jurnal Transport Reviews mencatat peningkatan aktivitas berjalan kaki di kawasan perkotaan berkontribusi pada penurunan emisi karbon dan kemacetan lalu lintas.

Susur Gang Samarinda juga memanfaatkan gang-gang permukiman sebagai ruang alternatif untuk aktivitas pejalan kaki yang dinilai lebih aman di tengah keterbatasan fasilitas di jalan utama. Selain terhindar dari padatnya lalu lintas kendaraan, peserta diajak mengenal lingkungan sekitar, sejarah kawasan, serta berinteraksi langsung dengan warga.

Wahyu menyebut banyak peserta yang baru menyadari masih adanya bangunan bersejarah, ruang terbuka, hingga jejak Samarinda lama yang tersembunyi di balik kawasan permukiman.

Pergerakan tersebut digelar dua kali dalam sepekan dan terbuka bagi seluruh kalangan tanpa proses pendaftaran khusus. Wahyu berharap, semakin banyak warga mulai membiasakan berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat. Selain meningkatkan kesehatan, langkah sederhana itu dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor sekaligus mendorong kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....