MASATA Dorong Pemkot Optimalkan Potensi Pariwisata Bontang
- 25 Des 2025 08:39 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Geliat sektor jasa pariwisata di Kota Bontang dinilai masih stagnan, meski kota ini memiliki visi besar sebagai Kota Industri dan Jasa. Kondisi tersebut menjadi sorotan sejumlah penggiat pariwisata menjelang momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendorong kunjungan wisata dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Berbagai potensi objek destinasi tempat wisata (ODTW) yang dimiliki Bontang, baik wisata alam maupun buatan, dinilai belum dikelola dan dipromosikan secara optimal. Implementasi kebijakan dan program pengembangan sektor jasa pariwisata belum menunjukkan pergerakan signifikan yang mampu menciptakan dampak ekonomi luas bagi masyarakat.
Kritik tersebut disampaikan sejumlah organisasi mitra pariwisata yang menilai Pemerintah Kota Bontang, melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf), belum mengambil langkah proaktif dalam menyambut potensi lonjakan wisatawan pada momen libur panjang akhir tahun.
Ketua DPC Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Kota Bontang, Eko Satrya, mengungkapkan bahwa hingga kini belum terlihat koordinasi dan konsolidasi yang terintegrasi antara pemerintah daerah dengan para pelaku dan penggiat pariwisata. Padahal, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam mempromosikan potensi wisata Bontang secara masif dan berkelanjutan.
“Bontang memiliki daya tarik wisata alam maupun buatan yang tidak kalah bersaing. Bahkan, kita punya nilai lebih dengan konsep wisata terintegrasi. Namun, potensi ini tidak akan berarti tanpa upaya eksplorasi, ekspose, dan eksibisi yang maksimal dari pemerintah,” ujar Eko Satrya.
Ia menambahkan, saat ini sejumlah organisasi mitra pariwisata seperti PHRI, ASITA, PUTRI, HPI, Forum Pokdarwis, hingga MASATA masih menanti langkah nyata dari Dispoparekraf untuk membangun kolaborasi strategis. Menurutnya, pengelolaan pariwisata tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan perencanaan terpadu dan keterlibatan semua pemangku kepentingan.
Eko menegaskan, lesunya sektor pariwisata berdampak langsung pada mata rantai ekonomi lainnya. Jika sektor jasa pariwisata digarap secara serius, maka sektor pendukung seperti perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, hingga pelaku kerajinan lokal akan ikut merasakan dampak positifnya.
“Pariwisata adalah lokomotif ekonomi kreatif. Jika pariwisata bergerak, UMKM dan kuliner kita juga akan tumbuh secara berkesinambungan. Karena itu, pemerintah harus lebih peka dan responsif memanfaatkan setiap momentum,” ucapnya.
Di sisi lain, wajah Kota Bontang yang mulai tertata dengan pembenahan jalur utama jalan kota dinilai telah mencerminkan nilai Sapta Pesona. Kondisi ini menjadi modal penting untuk menarik wisatawan. Eko pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berbenah dan mengoptimalkan potensi yang ada, agar momentum libur Nataru tidak berlalu tanpa kesan dan tanpa dampak ekonomi bagi warga Bontang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....