Wisata Konservasi Meningkat, Pelestarian Alam Bontang Terus Diperkuat

  • 04 Des 2025 14:02 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Minat wisatawan lokal terhadap wisata berbasis konservasi di Kota Bontang terus mengalami peningkatan. Hal itu disampaikan Ketua DPC Masata Bontang, Eko Satria, kepada RRI dalam dialog Halo Kaltim beberapa waktu lalu.

Eko menjelaskan, Kota Bontang memiliki keunggulan ekologis yang didukung keberadaan Taman Nasional Kutai (TNK). “TNK memiliki wilayah yang sangat luas, mulai dari daratan, pesisir hingga laut. Ini menjadi modal besar bagi pengembangan wisata konservasi,” ujar Eko.

Ia menambahkan, berbagai instansi teknis seperti BKSDA dan Balai Taman Nasional Kutai perlu mengoptimalkan pemberdayaan lingkungan, terutama karena Bontang merupakan kota industri yang rentan terhadap polutan. “Perusahaan-perusahaan industri kini gencar melakukan penanaman mangrove. Mangrove ini sangat strategis untuk ekosistem laut sekaligus mengurangi polusi udara,” ucapnya.

Eko juga menyoroti mangrove yang telah menjadi maskot flora Kota Bontang, sementara burung kuntul perak menjadi maskot faunanya. Kolaborasi antara pemerintah, instansi terkait, dan komunitas wisata dinilai semakin kuat. Salah satu wujud sinergi tersebut adalah pengembangan Bontang Mangrove Park sebagai destinasi wisata edukatif. “Itu salah satu bentuk nyata kolaborasi untuk menjadikan kawasan konservasi sebagai objek wisata unggulan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai KSDA Kalimantan Timur, Deni Mardiono, menegaskan tantangan terbesar dalam pelestarian flora dan fauna adalah rendahnya kesadaran sebagian masyarakat. “Masih banyak yang belum memahami bahwa memelihara satwa dilindungi sangat memengaruhi ekosistem. Ini tantangan nyata bagi kami,” ucap Deni.

Ia mengungkapkan, kasus kepemilikan ilegal masih sering ditemukan, terutama perdagangan burung dilindungi seperti cucak hijau. Bahkan, operasi terakhir menemukan praktik perdagangan orangutan. “Ini mengindikasikan masih ada masyarakat yang ingin memiliki satwa dilindungi secara ilegal,” ujar Deni.

Perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Menurut Deni, cuaca yang semakin kering membuat kawasan hutan rawan terbakar. “Kebakaran hutan berdampak luar biasa pada ekosistem. Satwa dan tumbuhan kehilangan habitatnya,” katanya.

Untuk mengatasi perdagangan satwa dilindungi yang marak di media sosial, BKSDA terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah. Deni menegaskan, pelestarian membutuhkan peran semua pihak.

“Satwa liar adalah titipan yang harus kita jaga. Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami pentingnya menjaga habitat dan tidak memelihara satwa secara ilegal,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....