Dari Nipah Jadi Rezeki, Usaha Ketupat Tetap Lestari
- 12 Agt 2025 11:06 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Di tengah pasang surut permintaan pasar, seorang pengrajin ketupat di Kampung Ketupat, Kelurahan Masjid, Samarinda Seberang, tetap mempertahankan usahanya selama lebih dari dua dekade. Nur Layla (53) mengaku telah menekuni kerajinan anyaman ketupat dari daun nipah sejak sebelum kawasan ini resmi dikenal sebagai destinasi wisata kuliner dan budaya.
Bahan baku daun nipah yang digunakan didapat dari wilayah Muara dan tambak, dipasok khusus oleh nelayan dengan kapal bantuan pemerintah. Satu ikat daun nipah dibanderol Rp50.000 dan dapat menghasilkan sekitar 1.000 ketupat kecil, khususnya untuk Soto Makassar. “Kalau bulan puasa harga naik dan produksi bisa berlipat,” ujarnya, Selasa (12/8/2025).
Dalam kondisi normal, Nur Layla mampu memproduksi hingga 16.000 ketupat per bulan dengan harga Rp26.000 per 100 biji untuk pelanggan tetapnya di Petung dan Banjarmasin. Pengiriman dilakukan menggunakan bus antarkota dengan volume hingga empat karung jumbo sekali kirim. Omzetnya per bulan diperkirakan mencapai lebih dari Rp4 juta.
Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam pemasaran karena sudah memiliki pelanggan tetap. Meski pandemi Covid-19 sempat membuat pasar sepi, permintaan dari mitra luar daerah tetap terjaga. “Selama ini pemasukan saya dari sini saja, sampai bisa membangun rumah sendiri,” ungkapnya.
Nur Layla menjelaskan, ketupat dari daun nipah memiliki daya simpan lebih lama dibanding daun kelapa, bahkan bisa bertahan hingga tiga atau empat bulan. Perbedaan ini membuatnya menjadi pilihan utama bagi pembeli dari luar daerah yang membutuhkan kualitas ketahanan lebih baik.
Selain memproduksi ketupat, ia juga mengajar mengaji anak-anak di lingkungan sekitar. Aktivitas ini membuatnya harus membagi waktu antara menganyam dan mengajar, terutama di sore hari.
Namun, pekerjaan duduk lama dalam menganyam berdampak pada kesehatannya. “Saya sempat terkena kanker serviks, sudah menjalani kemo dan radiasi, tapi tetap berusaha bekerja,” tuturnya.
Bagi Nur Layla, Kampung Ketupat telah membawa perubahan positif karena semakin ramai dikunjungi masyarakat dan mahasiswa yang ingin belajar menganyam. Ia berharap dukungan pemerintah dan masyarakat terus mengalir agar tradisi dan sumber penghidupan ini tetap lestari di tengah gempuran zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....