Pesan Duta Bahasa Kaltimtara untuk Generasi Muda
- 06 Jan 2026 10:39 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Keberadaan Duta Bahasa di era digital dinilai semakin relevan di tengah pesatnya arus globalisasi dan kuatnya pengaruh bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari. Duta Bahasa diharapkan mampu menjadi jembatan antara perkembangan zaman dan upaya pelestarian jati diri bangsa melalui penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan santun.
Hal tersebut disampaikan oleh Pemenang IV Duta Bahasa Kaltimtara 2025, Muhammad Zaini Ghoni, saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif program Odah Bekesah bersama Pro4 RRI Samarinda. Menurutnya, ruang digital saat ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa masyarakat, khususnya generasi muda.
Ghoni menilai, tantangan berbahasa di era digital terlihat dari maraknya penggunaan singkatan berlebihan dan praktik campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa asing. Fenomena ini kerap ditemui di media sosial, aplikasi percakapan, hingga konten digital lainnya yang dikonsumsi setiap hari.
“Sekarang justru banyak anak muda merasa janggal melihat penulisan yang terlalu disingkat seperti era SMS,” ucap Ghoni. Ia menilai, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bahwa kesadaran akan penggunaan bahasa yang lebih tertata mulai tumbuh kembali di kalangan generasi muda.
Lebih lanjut, Ghoni menjelaskan setelah menyandang gelar Duta Bahasa, ia merasa memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar dalam menggunakan bahasa, baik di ruang formal maupun informal. Kesadaran tersebut turut memengaruhi cara dirinya berkomunikasi di media sosial dan forum publik.
Baca juga: Peran Strategis Duta Bahasa di Era Digital
Ia mengungkapkan, kehati-hatian dalam menggunakan bahasa asing kini menjadi kebiasaan baru baginya. Menurut Ghoni, penggunaan bahasa asing yang berlebihan justru dapat mengaburkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang sebenarnya sangat beragam dan ekspresif.
“Saya sering berhenti sejenak hanya untuk mencari padanan kata bahasa Indonesia yang tepat,” katanya. Kebiasaan tersebut, lanjut Ghoni, bukan sekadar kewajiban sebagai Duta Bahasa, melainkan wujud kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa nasional.
Melalui peran Duta Bahasa, Ghoni berharap generasi muda semakin percaya diri menggunakan bahasa Indonesia di tengah arus digitalisasi. Ia menekankan, bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa yang adaptif, modern, dan relevan tanpa kehilangan identitasnya.
Dengan demikian, keberadaan Duta Bahasa di era digital tidak hanya sebatas simbol, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mengajak masyarakat untuk lebih bijak, sadar, dan bangga berbahasa Indonesia dalam setiap ruang komunikasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....