Mahasiswa Disabilitas UMKT Soroti Aksesibilitas Kampus
- 06 Okt 2026 08:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa penyandang disabilitas bukan berarti tanpa tantangan. Meski fasilitas kampus telah mendukung, aksesibilitas di sejumlah area masih menjadi perhatian, terutama ketika mahasiswa harus berpindah ruang secara mendadak.
Hal tersebut dirasakan Ambo Dalle, mahasiswa semester satu Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Ia mengatakan fasilitas yang tersedia di kampus sejauh ini sudah cukup membantu, tetapi penempatan ruang kuliah terkadang menjadi kendala.
“Tantangan saya mungkin dari segi fasilitas, tetapi sebenarnya fasilitasnya sudah memadai. Kesulitannya ketika ada jadwal dadakan atau tiba-tiba harus pindah kelas,” ujar Dale dalam program Kita Indonesia Pro 1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 6 Oktober 2026.
Dale menjelaskan, persoalan muncul ketika kelas ditempatkan di ruangan atau gedung yang tidak memiliki akses lift. Dalam kondisi tersebut, ia harus menggunakan tangga untuk mencapai ruang perkuliahan.
“Kalau tiba-tiba pindah kelas dan mendapatkan ruangan yang tidak ada liftnya, saya harus naik turun tangga,” kata Dalle.
Meski demikian, Dalle mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam berinteraksi dengan dosen maupun mahasiswa lainnya. Ia merasa diperlakukan seperti mahasiswa pada umumnya dan mendapat dukungan selama menjalani perkuliahan.
“Untuk interaksi alhamdulillah baik. Teman-teman saya juga mungkin beberapa belum tahu saya disabilitas, jadi mereka menganggap saya seperti teman biasa,” ucap Dalle.
Dalam praktiknya, masih terdapat situasi ketika mahasiswa disabilitas dianggap mendapatkan perlakuan khusus oleh mahasiswa lain. Dale mengatakan hal tersebut kemungkinan terjadi karena sebagian mahasiswa belum mengetahui kondisi disabilitas yang dimilikinya.
Dari sisi fasilitas, Dale berharap aksesibilitas di lingkungan kampus terus ditingkatkan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah jalur yang memiliki kemiringan tertentu dan belum dilengkapi pegangan yang memadai.
“Mungkin dari segi jalanannya ada sedikit yang menanjak. Jadi, mungkin bisa diberi pegangan supaya kami tidak terlalu berisiko jatuh,” ujar Dale.
Sementara itu, relawan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UMKT, Juniati, mengatakan upaya menciptakan lingkungan yang setara juga dilakukan melalui pemahaman mahasiswa terhadap keberadaan teman-teman penyandang disabilitas. Ia bergabung sebagai relawan karena memiliki pengalaman keluarga yang membuatnya memahami pentingnya dukungan bagi penyandang disabilitas.
Juniati mengatakan, keberadaan mahasiswa disabilitas di lingkungan kampus seharusnya tidak menjadi alasan untuk memberikan perlakuan berbeda. Menurutnya, dukungan dapat diberikan sesuai kebutuhan tanpa mengurangi kesempatan mahasiswa untuk beraktivitas secara mandiri.
“Saya ingin berkontribusi. Apa pun kekurangan mereka, kita bantu tanpa ada pembedaan dan tanpa diskriminasi,” kata Juniati.
Juniati menambahkan, beberapa area kampus yang sedang direnovasi juga dapat menjadi tantangan bagi mahasiswa disabilitas. Ia berharap fasilitas seperti pegangan pada tangga dan jalur yang lebih mudah diakses dapat ditambah.
“Beberapa gedung sedang dalam masa renovasi sehingga menyulitkan untuk berjalan. Kalau tangga tidak ada pegangan, mungkin ke depannya bisa ditambahkan,” ucap Juniati.
Selain akses fisik, UMKT juga memberikan perhatian terhadap mahasiswa dengan disabilitas yang tidak selalu terlihat secara langsung. Juniati menjelaskan, mahasiswa yang membutuhkan dukungan terkait kondisi mental dapat memperoleh penanganan melalui bagian kemahasiswaan.
Menurutnya, tantangan lainnya adalah pendataan karena kondisi disabilitas yang tidak terlihat terkadang membuat kebutuhan mahasiswa sulit dikenali sejak awal. Karena itu, komunikasi antara mahasiswa, ULD, dan pihak kampus menjadi penting agar dukungan dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari proses membangun lingkungan pendidikan yang inklusif. Kesetaraan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan fasilitas, tetapi juga melalui pemahaman, pendampingan, serta akses yang memungkinkan setiap mahasiswa mengikuti proses perkuliahan secara aman dan nyaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....