Karhutla Berau Capai 18 Hektare, Sejumlah Titik Belum Padam
- 25 Sep 2026 06:14 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali terjadi di sejumlah wilayah sepanjang Selasa hingga Rabu, 22-23 September 2026. Berdasarkan laporan harian Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Berau, total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 18 hektare dalam lima kejadian.
Petugas Pusdalops BPBD Kaltim, Muriono, menyampaikan dari lima kejadian tersebut, dua lokasi belum berhasil dipadamkan seluruhnya. "Dari total luasan sekitar 18 hektare, diperkirakan masih terdapat sekitar 6,5 hektare lahan yang belum dapat dipadamkan," ujarnya.
Kebakaran pertama terjadi di Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung Tabur, pada Selasa, 22 September 2026 sekitar pukul 13.35 WITA. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lima hektare, dengan sekitar 3,5 hektare berhasil dipadamkan dan 1,5 hektare masih tersisa.
Sebanyak 17 personel dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut, terdiri dari KPHP Berau Utara, Manggala Agni, MPA Kampung Batu-Batu, Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS, serta personel BKO Polda/Polres Berau. Tim juga menggunakan sejumlah armada dan peralatan pemadaman.
Pemadaman di lokasi ini menghadapi kendala karena tidak terdapat sumber air di sekitar titik kebakaran. Selain itu, kondisi medan berupa perbukitan curam, lembah, serta vegetasi semak belukar dan pakis-pakisan menyulitkan petugas menjangkau dan memadamkan seluruh titik api.
Kebakaran berikutnya terjadi di RT 12 Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, pada Rabu sekitar pukul 11.40 WITA. Lahan yang terbakar diperkirakan seluas dua hektare dan seluruhnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan.
Sebanyak 15 personel terlibat dalam penanganan kebakaran di Talisayan, terdiri dari petugas Disdamkarmat, Polri, KPH, dan relawan. Petugas bergerak setelah Posko Talisayan menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya kebakaran lahan.
Sementara itu, karhutla juga terjadi di Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, sekitar pukul 17.00 WITA. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 10 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar lima hektare berhasil dipadamkan, sedangkan lima hektare lainnya masih belum terpadamkan seluruhnya.
Sebanyak 15 personel dari Kecamatan Tabalar, Disdamkarmat, serta Polsek/BKO dikerahkan dengan menggunakan mobil dalkarhutla, slip-on, dan water supply. Pemadaman dilakukan secara langsung dan menggunakan armada pemadam. Namun, jauhnya sumber air menjadi kendala dalam penanganan.
Karhutla kembali terjadi di kawasan Jalan Poros Usiran, Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung Tabur, pada Rabu sekitar pukul 14.35 WITA. Kebakaran dengan luas sekitar 0,5 hektare tersebut berhasil dipadamkan dan dilakukan pendinginan oleh tim gabungan.
Tim yang menangani kejadian itu terdiri dari TRC-PB BPBD Berau, Disdamkarmat, kepolisian, serta karyawan PT Fuji. Pemadaman berjalan lancar dengan dukungan mobil dalkarhutla BPBD, mobil water supply Disdamkarmat, kendaraan polisi, dan dump truck yang dilengkapi tandon air.
Kebakaran lainnya terjadi di Jalan Poros Kampung Labanan Makmur, Kecamatan Teluk Bayur, pada Selasa malam sekitar pukul 21.30 WITA. Lahan yang terbakar diperkirakan seluas 0,5 hektare dan belum dapat dipadamkan secara langsung karena lokasi berada cukup jauh dan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Kondisi lahan gambut serta tidak tersedianya sumber air di sekitar lokasi turut menjadi kendala. Petugas memastikan tidak ditemukan lagi titik api dan selanjutnya akan dilakukan pengecekan ulang melalui koordinasi pemerintah kampung, Disdamkar, TNI, dan Polri.
Dari lima kejadian tersebut, penyebab kebakaran di beberapa lokasi masih belum diketahui. Sementara pada kejadian di Kampung Buyung-Buyung, laporan menyebut kondisi cuaca ekstrem musim kemarau dan dugaan aktivitas manusia berupa kelalaian atau pembukaan lahan sebagai faktor yang perlu diperhatikan.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan penanganan karhutla di Berau tidak hanya berkaitan dengan luas area terbakar, tetapi juga akses menuju lokasi, ketersediaan sumber air, kondisi vegetasi, dan karakteristik lahan. Pemantauan serta penanganan lanjutan masih diperlukan pada titik yang belum sepenuhnya padam.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau asap di sekitar lingkungan. Pencegahan sejak dini dinilai penting agar kebakaran tidak meluas dan semakin sulit ditangani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....