Dinkes Kaltim Soroti Pentingnya Satu Komando saat Penanganan Bencana

  • 18 Sep 2026 12:29 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Penanganan korban dalam situasi bencana di Kalimantan Timur dinilai membutuhkan sistem komando yang jelas agar seluruh unsur di lapangan dapat bekerja secara terkoordinasi. Kejelasan komando menjadi penting karena kondisi bencana melibatkan banyak pihak dengan fungsi yang berbeda.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Direktur Pelayanan Penunjang RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, Mulyono, dalam Webinar “Setiap Detik Berharga: Penguatan Kapasitas Nakes Nonmedis dalam Penanganan Kegawatdaruratan”, Rabu, 16 September 2026. Menurutnya, penanganan krisis kesehatan tidak dapat dilakukan oleh satu sektor secara terpisah.

Mulyono menyebut kepolisian, badan penanggulangan bencana, pemadam kebakaran, tenaga kesehatan, relawan, hingga fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran masing-masing. Namun, seluruh unsur tersebut membutuhkan koordinasi agar tidak terjadi kekacauan ketika menghadapi situasi darurat.

“Kesulitan kita adalah ketika kita mencari pemimpin. Jadi, kondisi di lapangan ketika terjadi chaos itu sebenarnya siapa komandan di lapangan yang kemudian bisa mengkoordinir semua tim,” kata Mulyono.

Menurut Mulyono, sistem penanganan idealnya sudah menetapkan siapa yang bertanggung jawab sebagai komandan, siapa yang melakukan triase korban, siapa yang mengatur komunikasi, serta ke mana korban akan dirujuk. Pembagian tugas tersebut perlu dipersiapkan sebelum terjadi bencana melalui mitigasi dan latihan bersama.

Mulyono juga menekankan pentingnya pembagian lokasi pelayanan berdasarkan kondisi korban. "Pasien dengan kondisi ringan dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama atau lokasi yang telah disiapkan, sementara pasien dengan kondisi lebih berat dirujuk ke rumah sakit sesuai kapasitasnya," ucap Mulyono.

Menurut Mulyono, pola tersebut diperlukan agar seluruh korban tidak langsung menumpuk di satu rumah sakit hanya karena fasilitas tersebut berada paling dekat dengan lokasi kejadian. “Jangan sampai semua pasien itu dikirim ke rumah sakit A seperti itu. Rumah sakit A itu terdekat. Jangan seperti itu supaya tidak memindahkan bencana ke rumah sakit,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....