OIKN Gandeng AS Kembangkan AI dan Data untuk Smart City
- 02 Sep 2026 12:11 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan tata kelola data sebagai fondasi kota cerdas. Kolaborasi tersebut diarahkan agar transformasi digital di Nusantara menghasilkan layanan publik yang lebih responsif, bukan sekadar menambah penggunaan teknologi.
Kerja sama itu dibahas dalam Nusantara Smart City Stakeholders Forum 2026 yang digelar OIKN bersama United States Trade and Development Agency (USTDA) di Swissôtel Nusantara, Selasa 1 September 2026.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, organisasi independen, dan perusahaan teknologi untuk membahas penerapan smart city dari sisi teknologi sekaligus tata kelola. Sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Kabupaten Sumedang, Kota Denpasar, dan Kota Surabaya turut berbagi pengalaman dalam mengembangkan layanan berbasis teknologi dan data.
Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital OIKN Agung Indrajit mengatakan ukuran keberhasilan kota cerdas bukan terletak pada banyaknya teknologi yang digunakan. Menurutnya, teknologi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui layanan publik yang lebih efektif dan mudah diakses.
“Kota yang paling cerdas belum tentu kota yang memiliki teknologi paling banyak. Kota yang paling cerdas adalah kota yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakatnya,” ujar Agung.
Pandangan tersebut menjadi penting karena pembangunan kota cerdas berhadapan dengan persoalan yang lebih luas daripada penyediaan perangkat digital. Kualitas data, kemampuan sumber daya manusia, tata kelola, serta kemampuan pemerintah menerjemahkan data menjadi kebijakan turut menentukan manfaat teknologi bagi warga.
Dalam forum tersebut, pemanfaatan AI ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pengelolaan data. Pengembangan teknologi membutuhkan tata kelola yang mampu memastikan data dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pelayanan publik.
USTDA membawa sejumlah perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dalam forum tersebut. Honeywell, Cisco, IBM, dan Google termasuk perusahaan yang disebut memiliki keahlian dalam teknologi dan solusi kota cerdas.
Kehadiran perusahaan teknologi tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan produk. Mereka juga memberikan pelatihan teknis kepada peserta mengenai data science, strategic and AI-driven data governance for smart cities, serta smart building.
Materi tersebut menunjukkan kebutuhan Nusantara tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur digital. Kapasitas manusia yang mengelola data dan teknologi juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem kota cerdas.
Pengalaman sejumlah pemerintah daerah menjadi bagian lain yang dibawa dalam forum tersebut. Pemerintah daerah berbagi praktik penerapan teknologi dan tata kelola berbasis data sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Pendekatan ini memberi ruang bagi Nusantara untuk melihat bahwa konsep kota cerdas tidak dapat diterapkan dengan satu pola yang sama. Kebutuhan kota, karakteristik penduduk, layanan publik, serta kapasitas pemerintah akan menentukan teknologi yang paling relevan.
Forum tersebut juga mempertemukan pelaksana proyek pilot command center, Meta Mind Global Corporation (MMGC), dengan pihak yang terlibat dalam Nusantara Smart City Technical Assistance (NSCSTA). Frost & Sullivan dan konsorsium turut terlibat dalam agenda tersebut.
Sebelumnya, dokumen agenda OIKN mencatat forum ini juga membahas realitas implementasi smart city pada kota berukuran menengah serta prinsip desain kota cerdas untuk kota besar dan Nusantara.
Counselor for Commercial Affairs U.S. Embassy Jakarta Andrew Billard mengatakan perusahaan dan investor Amerika Serikat memiliki peluang untuk terlibat dalam pembangunan Nusantara.
“Amerika Serikat memiliki perusahaan dan investor yang sangat penting bagi pembangunan Nusantara. Kami ingin membangun kemitraan jangka panjang, memperkuat daya saing Indonesia, serta mengembangkan talenta lokal,” ujar Andrew.
Kerja sama tersebut tidak hanya berkaitan dengan investasi teknologi. Pemerintah Amerika Serikat juga ingin menghubungkan perusahaan asal negaranya dengan peluang dan mitra potensial di Indonesia.
Bagi Nusantara, keterlibatan perusahaan teknologi global dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan dan pengalaman dalam membangun sistem kota cerdas. Namun, manfaat akhirnya tetap bergantung pada kemampuan Nusantara mengintegrasikan teknologi tersebut dengan kebutuhan layanan publik.
Forum juga dilanjutkan dengan kunjungan ke Nusantara Integrated Command and Control Center (ICCC) sebagai bagian dari agenda kegiatan. ICCC menjadi salah satu contoh penerapan sistem terintegrasi yang tengah dikembangkan dalam ekosistem kota cerdas Nusantara.
Dengan demikian, pengembangan smart city Nusantara mulai diarahkan pada tiga hal yang saling berkaitan, yakni teknologi, kualitas data, dan kapasitas manusia. Tantangannya bukan sekadar membangun sistem yang canggih, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar bekerja untuk kebutuhan warga dan mendukung pengambilan keputusan pemerintah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....