Karhutla di Kaltim, BPBD Ungkap Dugaan Kelalaian hingga Kesengajaan

  • 28 Agt 2026 19:16 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur menganalisis sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bumi Etam. Selain kondisi lahan yang kering, sebagian kebakaran diduga terjadi akibat kelalaian maupun kesengajaan manusia.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan dugaan tersebut terlihat dari pola kejadian di sejumlah wilayah. Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD hingga 26 Agustus 2026 menunjukkan Kabupaten Paser mencatat kejadian karhutla terbanyak dengan 151 kasus, disusul Kota Samarinda sebanyak 91 kejadian.

“Samarinda urutan kedua, padahal di sini enggak ada lahan, adanya di ujung-ujung. Nah, ini bisa jadi ada unsur kesengajaan atau kelalaian. Melakukan pembakaran yang tidak seharusnya,” ujar Buyung, dalam konferensi pers di Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, masyarakat sejatinya perlu memahami aturan terkait pembakaran lahan. Ia menyebut ketentuan yang sebelumnya memberikan ruang pembakaran lahan dengan luasan tertentu kini telah ditiadakan melalui surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup.

Namun, aktivitas pembakaran lahan masih ditemukan di lapangan. Karena itu, Buyung mendorong masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu karhutla.

"Kalau dilihat di daerah Pendingin, Kutai Kartanegara, misalnya, ada satu lahan itu terbakar, tapi masih ada gubuknya. Kalau kita asumsikan gubuknya sebelumnya memang di situ, berarti gubuk itu harusnya terbakar dong, tapi gubuknya enggak. Nah, makanya indikator kuat bahwa sebagian besar ada unsur kesengajaan," kata Buyung.

Namun, Buyung tidak menampik ada kemungkinan lain. Ia menyebut kebakaran juga dapat menyebar melalui partikel yang terbawa asap, sebagaimana informasi yang pihaknya dapatkan dari para ahli.

"Pendapat ahli Universitas Mulawarman yang sudah pengalaman sampai ke Australia bahwa ternyata kebakaran hutan itu bisa terjadi karena asap dari sebuah partikel bisa tetap hidup. Asap itu menyeberang ke kawasan lain sehingga menimbulkan titik api di tempat tersebut," ujarnya.

Meski begitu, ia tetap mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran atau hal yang memicu karhutla. Sebab tidak hanya berdampak pada lingkungan, asap yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, terutama pernapasan, serta berpotensi meningkatkan kasus ISPA.

Selain itu, gangguan kualitas udara juga akan memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk proses belajar mengajar di sekolah.

BPBD Kaltim pun berharap jumlah kejadian karhutla dapat ditekan dan hujan segera turun. Hingga kini, Buyung dan petugas lainnya masih terus memantau prakiraan cuaca BMKG walaupun prediksi mengatakan kemarau akan berlangsung hingga Oktober 2026.

"Prediksi dari BMKG ini masih terus berlanjut sampai dengan bulan September dan baru akan landai di bulan Oktober. Tapi tetap kita lihat terus perkiraan dasarian (per 10 hari) BMKG, karena masih bisa berubah tingkat kemungkinan hujannya," kata Buyung, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....