Ribuan Atlet Muda Kaltim Ikuti Turnamen Bulutangkis di Balikpapan

  • 26 Agt 2026 06:43 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan – Turnamen Bayan Open 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi bulutangkis, tetapi menjadi ruang pembinaan yang melahirkan atlet muda berprestasi dari Kalimantan Timur.

Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kaltim sekaligus Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, mengatakan keberadaan turnamen dengan peserta dari berbagai daerah penting untuk menambah jam terbang atlet.

Menurutnya, pengalaman bertanding dibutuhkan atlet muda untuk mengukur kemampuan sekaligus membangun mental sebelum menghadapi kompetisi yang lebih tinggi.

“Harapan kami, dari turnamen ini muncul bibit-bibit unggul bulutangkis Kalimantan Timur yang nantinya bisa berprestasi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga sampai internasional,” kata Mudyat Noor saat pembukaan Bayan Open 2026 di Balikpapan, Selasa, 25 Agustus 2026.

Bayan Open 2026 diikuti 1.292 peserta dengan kelompok usia yang beragam, mulai usia dini, taruna hingga veteran. Besarnya jumlah peserta menunjukkan kompetisi bulutangkis memiliki basis peminat yang kuat sekaligus membutuhkan ruang pertandingan yang berkelanjutan.

Bagi atlet usia muda, kompetisi semacam ini menjadi kesempatan untuk menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda. Pengalaman tersebut dapat membantu atlet mengenali kekuatan dan kelemahan sebelum masuk ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

Pembinaan juga tidak berhenti pada pertandingan. Bayan Open 2026 menghadirkan *coaching clinic* bersama Jonatan Christie dan Hendra Setiawan yang memberikan kesempatan kepada atlet muda belajar langsung dari pebulutangkis berpengalaman.

Kehadiran atlet nasional tersebut dapat menjadi pengalaman penting bagi peserta. Selain memperoleh materi teknik permainan, atlet muda juga dapat melihat secara langsung bagaimana seorang pebulutangkis membangun kemampuan dan mental kompetitif.

Ketua Panitia Bayan Open 2026, Sugianto, mengatakan kompetisi harus dilihat sebagai bagian dari proses pembentukan atlet, bukan sekadar mencari pemenang.

“Yang paling penting bukan hanya pertandingan dan siapa yang menjadi juara. Kami ingin anak-anak mendapatkan pengalaman, bertemu lawan dari berbagai daerah, dan belajar bagaimana membangun mental bertanding,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan kompetisi sebagai salah satu mata rantai dalam pembinaan olahraga. Atlet membutuhkan pertandingan yang konsisten agar kemampuan yang diperoleh selama latihan dapat diuji dalam situasi kompetitif.

Di sisi lain, pembinaan atlet membutuhkan dukungan lebih luas. Pemerintah daerah, organisasi olahraga, klub, sekolah, keluarga hingga dunia usaha memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang memungkinkan atlet berkembang secara berkelanjutan.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kaltim, A. M. Fitra Firnanda, mengapresiasi dukungan PT Bayan Resources Tbk terhadap penyelenggaraan kompetisi olahraga.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Perusahaan yang telah mengadakan event ini. Event seperti ini sangat diperlukan di seluruh cabang olahraga di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Menurutnya, dukungan perusahaan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pembinaan olahraga. Terlebih, Kaltim memiliki banyak perusahaan besar yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan prestasi atlet daerah.

Bayan Open juga memperlihatkan bahwa pembinaan olahraga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor lain. Rangkaian kegiatan Bayan 2026 turut menghadirkan Bayan Craft Art yang melibatkan 83 pelaku UMKM dari bidang kuliner, kerajinan, ekonomi kreatif, seni, dan budaya.

Kondisi tersebut memperluas manfaat kegiatan dari sekadar arena pertandingan. Kompetisi olahraga dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat, membuka peluang ekonomi, sekaligus memperkenalkan potensi daerah.

Bagi Kaltim, tantangan berikutnya adalah memastikan munculnya atlet muda tidak berhenti pada satu turnamen. Bibit yang terlihat potensial membutuhkan pembinaan lanjutan, kompetisi yang teratur, pelatih berkualitas, fasilitas memadai, serta dukungan yang konsisten.

Dengan pola pembinaan seperti itu, harapan melahirkan atlet yang mampu menembus level nasional hingga internasional memiliki fondasi yang lebih kuat. Bayan Open 2026 setidaknya menjadi salah satu ruang untuk memulai proses tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....