Jangan Hanya Merayakan, Maknai Kembali Arti Kemerdekaan
- 17 Agt 2026 08:27 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Peringatan kemerdekaan bagi Syafruddin Pernyata bukan sekadar menghadiri seremoni setiap 17 Agustus. Momentum itu menjadi ruang untuk mengingat kembali pengorbanan generasi terdahulu sekaligus melihat persoalan bangsa hari ini.
Mantan wartawan senior sekaligus sastrawan dan birokrat di Kalimantan Timur itu hadir dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor PWI Kaltim, Jalan Biola Nomor 8 Samarinda, Senin, 17 Agustus 2026.
Bagi Syafruddin, kehadiran di tengah peringatan kemerdekaan merupakan bentuk penghormatan sederhana terhadap sejarah. Ia mengaku berusaha menghadiri peringatan 17 Agustus di mana pun berada, termasuk ketika berada di sebuah desa setelah pensiun.
Menurutnya, peringatan kemerdekaan hanya berlangsung sekali dalam setahun. Karena itu, tidak ada alasan untuk mengabaikan momentum tersebut, terlebih ketika dibandingkan dengan perjuangan generasi yang mengalami langsung masa sebelum kemerdekaan.
“Saya ini setiap 17 Agustus di mana pun saya berada, insyaallah akan hadir. Pernah saya sesudah pensiun berada di Desa Muara Enggelam (desa terapung unik tanpa daratan yang terletak di Kecamatan Muara Wis, Kukar) disitu Ada peringatan di SD, saya hadir,” kata Syafruddin.
Baginya, menghadiri peringatan kemerdekaan bukan sekadar menjalankan rutinitas. Ada hubungan emosional dengan sejarah keluarganya yang membuat setiap peringatan 17 Agustus memiliki arti tersendiri.
Ayah Syafruddin merupakan seorang veteran. Ia menceritakan, sang ayah pernah ditangkap dan menjalani penahanan selama beberapa bulan sebelum akhirnya mendapat tahanan luar. Pada masa itulah sang ayah kemudian melarikan diri hingga akhirnya berada di Kalimantan.
“Bapak saya veteran. Dia ditangkap, tiga bulan ditahan, dibawa ke Benteng Makassar. Di sana dia dapat tahan luar, siang malam kembali ke penjara. Di situlah dia lari ke Kalimantan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Syafruddin melihat kemerdekaan bukan sebagai sesuatu yang datang begitu saja. Ada pengorbanan keluarga dan generasi terdahulu yang menurutnya harus terus diingat oleh generasi sekarang.
Karena itu, menurut Syafruddin, memperingati kemerdekaan menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga ingatan kolektif bangsa. Ia mempertanyakan mengapa menghadiri peringatan 17 Agustus harus dianggap sebagai sesuatu yang berat ketika kegiatan tersebut hanya berlangsung setahun sekali.
Ia juga melihat momentum kemerdekaan tahun ini dalam konteks Indonesia yang menurutnya masih menghadapi berbagai persoalan. Ia menyebut informasi mengenai persoalan di sejumlah wilayah Indonesia yang dibacanya dalam beberapa hari terakhir sebagai sesuatu yang perlu menjadi bahan perenungan bersama.
Syafruddin menyinggung kabar mengenai masyarakat di Aceh, Papua dan di tanah Borneo yang menurutnya perlu dilihat secara lebih serius.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak semestinya langsung direspons dengan menyalahkan pihak tertentu. Yang lebih penting, bangsa Indonesia perlu bertanya mengenai akar persoalan yang membuat situasi tersebut muncul.
“Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan mereka, tetapi kita harus bertanya, ada apa dengan bangsa ini,” katanya, menegaskan.
Dalam konteks itulah Syafruddin menilai kegiatan yang dilakukan PWI Kaltim memiliki arti lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia mengaku terharu melihat wartawan dan berbagai unsur pers hadir bersama di lingkungan Kantor PWI Kaltim.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa insan pers juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat kebangsaan. Pers bukan hanya bertugas meliput peristiwa kemerdekaan, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang ikut merawat ingatan sejarah.
Syafruddin bahkan berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai momentum sekali jalan. Ia ingin peringatan kemerdekaan di lingkungan PWI Kaltim menjadi tradisi yang terus dilakukan setiap tahun.
“Saya tidak menyangka kawan-kawan hadir di sini dan ini sesuatu yang luar biasa. Ini menjadi tonggak sejarah sampai kapan pun di PWI ini, setiap 17 Agustus kita memperingati ini,” katanya.
Pengalaman Syafruddin sebagai mantan pengurus PWI juga membuatnya melihat kegiatan tersebut dari perspektif yang berbeda. Ia pernah menjadi sekretaris PWI selama dua periode dan mengaku tidak pernah melihat pelaksanaan peringatan 17 Agustus seperti yang dilakukan PWI Kaltim kali ini.
Menurutnya, pada masa lalu wartawan lebih banyak disibukkan dengan tugas peliputan berbagai agenda peringatan kemerdekaan. Karena itu, kehadiran wartawan dalam kegiatan internal organisasi pers menjadi sesuatu yang menurutnya patut dipertahankan.
Bagi Syafruddin, kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang dirayakan setiap Agustus. Kemerdekaan juga menjadi tanggung jawab setiap generasi untuk memahami sejarah, melihat persoalan bangsa secara kritis, dan menjaga agar perbedaan tidak berkembang menjadi persoalan yang mengancam persatuan.
Dari halaman Kantor PWI Kaltim, pesan itu menjadi refleksi seorang wartawan senior yang pernah mengalami panjangnya perjalanan pers dan bangsa. Kemerdekaan, menurutnya, harus terus diingat agar generasi hari ini tidak kehilangan hubungan dengan pengorbanan orang-orang yang memperjuangkannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....