Pekan Ekonomi Unmul Hubungkan Pembelajaran Kewirausahaan dengan Praktik Usaha

  • 13 Agt 2026 11:11 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Perguruan tinggi semakin dituntut memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan ekonomi melalui pengalaman langsung, termasuk mengelola usaha dan berinteraksi dengan konsumen.

Kebutuhan tersebut relevan di tengah perubahan dunia kerja yang mendorong lulusan memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, komunikasi, dan pengalaman praktis. Pemerintah juga mendorong perguruan tinggi melahirkan bukan hanya pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja.

Data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen atau sekitar 7,24 juta orang. Kondisi tersebut membuat penguatan pengalaman kewirausahaan mahasiswa semakin penting sebagai salah satu bekal menghadapi dunia kerja.

Koordinator Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Mulawarman Noor Ellyawati kepada rri.co.id Kamis 13 Agustuss 2026 mengatakan, pengalaman mahasiswa dalam kegiatan ekonomi perlu dibangun melalui praktik. Salah satunya dengan memberikan ruang bagi mahasiswa mengimplementasikan ilmu kewirausahaan yang telah diperoleh selama perkuliahan.

“Bagaimana bazar itu merupakan tempat untuk mahasiswa mengimplementasikan dari apa yang sudah diperoleh pada mata kuliah kewirausahaan. Kemudian dia bisa menerapkan langsung bagaimana cara berjualan dan merencanakannya,” ujar Noor.

Menurutnya, praktik tersebut membuat mahasiswa tidak hanya memahami konsep usaha secara teoritis. Mereka juga berhadapan langsung dengan proses menentukan produk, menyusun strategi penjualan, mempromosikan barang, hingga melihat respons konsumen terhadap produk yang ditawarkan.

Pengalaman seperti itu menjadi semakin relevan karena aktivitas ekonomi anak muda kini tidak lagi terbatas pada toko atau pasar konvensional. Perkembangan ekonomi digital membuka ruang bagi mahasiswa untuk memulai usaha dengan memanfaatkan media sosial, platform perdagangan elektronik, dan sistem pembayaran digital.

Namun, kemudahan memulai usaha juga menuntut kemampuan yang lebih kompleks. Mahasiswa perlu memahami bahwa menjual produk bukan hanya persoalan mendapatkan pembeli, tetapi juga bagaimana merencanakan usaha, menghitung biaya, menentukan harga, melakukan promosi, dan mempertahankan konsumen.

Pemerintah melalui program kewirausahaan mahasiswa juga mendorong mahasiswa mengembangkan produk usaha sendiri dan menjalani tahapan pengembangan bisnis secara terstruktur. Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha 2026, misalnya, memberikan ruang bagi mahasiswa mengembangkan usaha melalui proses pengajuan, seleksi, pendanaan, hingga pelaksanaan program.

Dorongan serupa juga terlihat dari berbagai program pengembangan wirausaha muda di perguruan tinggi. Kementerian UMKM bersama Universitas Sebelas Maret pada Juli 2026, misalnya, menyiapkan 400 wirausaha muda melalui program pengembangan usaha mahasiswa.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman berusaha mulai ditempatkan sebagai bagian penting dari pengembangan kompetensi mahasiswa. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menguji pengetahuan tersebut melalui persoalan ekonomi yang nyata.

Bagi Pendidikan Ekonomi FKIP Unmul, pendekatan itu diterapkan melalui Pekan Ekonomi XV. Salah satu rangkaiannya adalah bazar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai angkatan untuk mempraktikkan ilmu kewirausahaan secara langsung.

Noor mengatakan antusiasme mahasiswa mengikuti bazar menjadi indikasi bahwa ruang praktik ekonomi dibutuhkan mahasiswa. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat dan membangun pengalaman berinteraksi dengan konsumen.

“Alhamdulillah mahasiswa antusias semua untuk bisa mengikuti kegiatan bazar ini dari semua angkatan. Ini merupakan bentuk penerapan dari ilmu yang sudah didapatkan di mata kuliah kewirausahaan,” kata Noor.

Bazar juga membuka ruang interaksi yang lebih luas karena kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi lingkungan kampus. Masyarakat dapat datang dan bertransaksi langsung dengan mahasiswa sehingga terjadi pertemuan antara lingkungan pendidikan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari sisi mahasiswa, pengalaman tersebut dapat menjadi latihan menghadapi kondisi usaha yang sebenarnya. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana konsumen memilih produk, mempertimbangkan harga, merespons promosi, hingga menentukan keputusan pembelian.

Praktik tersebut juga dapat membentuk pola pikir bahwa ekonomi tidak hanya dipelajari untuk memahami teori produksi, konsumsi, pasar, dan kewirausahaan. Ekonomi juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan ketika berhadapan dengan kebutuhan dan perubahan perilaku masyarakat.

Di tengah semakin terbukanya peluang usaha bagi generasi muda, pengalaman tersebut menjadi modal penting. Mahasiswa memiliki kesempatan menguji gagasan sejak berada di bangku kuliah sebelum menghadapi persaingan dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.

Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas ekonomi secara langsung dapat menjadi jembatan antara pembelajaran akademik dan kebutuhan dunia nyata. Kampus tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang memahami teori, tetapi juga generasi muda yang mampu membaca peluang dan mengubah pengetahuan menjadi kegiatan produktif.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....