Kontraktor Rumah MBR Keluhkan Pembayaran Tersendat dan Harga Material Naik

  • 27 Jul 2026 10:14 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kontraktor pembangunan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di salah satu perumahan di Jalan Ring Road II, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda mengeluhkan pembayaran dari pihak pengembang yang dinilai masih tersendat. Kondisi itu disebut membuat kontraktor harus menanggung seluruh biaya pembangunan rumah sebelum pembayaran diterima.

Salah seorang kontraktor, Win, mengatakan rumah dibangun terlebih dahulu meski belum ada pembeli yang mengajukan kredit. Akibatnya, pembayaran kepada kontraktor baru dilakukan setelah proses penjualan dan pencairan pembiayaan selesai.

"Masalah dana itu kita semua yang mendanai. Contoh rumah ini aja belum dibayar sama sekali. Mau enggak mau bahan kita invoice dulu, nanti kalau bayaran rumah cair baru kita bayar nyicil," ujar Win kepada rri.co.id, sambil menunjuk salah satu rumah, Senin, 27 Juli 2026.

Win menjelaskan, biaya pembangunan satu unit rumah saat ini mencapai Rp70 juta, naik dibandingkan sebelumnya yang sebesar Rp68 juta. Nilai tersebut sudah mencakup biaya material dan pekerjaan hingga rumah siap diserahterimakan kepada pembeli.

Untuk membangun rumah, lanjutnya, Win biasa mempekerjakan dua orang untuk setiap hunian dengan waktu penyelesaian kurang dari tiga bulan. Selama menjadi kontraktor mandiri, ia mengaku telah menyelesaikan lebih dari 200 unit rumah.

"Ya, mungkin lebih 200-an sudah kita bangun. Mulai awal kita. Dulu kita kan ikut kontraktor orang, terus nabung sedikit-sedikit baru bisa buka sendiri," ucapnya.

Bagian belakang salah satu rumah subsidi MBR yang belum berpenghuni. (Foto: RRI Samarinda/Chella)

Meski demikian, belakangan Win mengaku untung yang didapat terhitung tipis setelah memperhitungkan upah pekerja. Terlebih, pihaknya harus menanggung biaya bahan baku material yang saat ini mengalami kenaikan.

"Batu padas itu per truk Rp600 ribu. Kalau satu rumah itu perlu satu truk setengah lah. Kaca tanggungan kita semua. Kayu kemarin per meter harganya kurang. Kalau sekarang ya naik terus ini. Seng dan besi juga naik," kata Win.

Namun, Win menuturkan dirinya tetap bersyukur karena masih bisa sedikit menabung dan menyisihkan Rp20 juta sebagai upah pekerja untuk setiap rumah yang sudah terjual.

Ia pun berharap persoalan ini segera menemukan jalan keluar. Sebab, di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil dan kenaikan harga bahan pokok, hal itu turut mempengaruhi kehidupan kontraktor serta pekerja.

"Para pekerja ini kan butuh makan juga, ya kalau bisa harus naik juga bayarannya. Kalau tidak, mungkin lambat laun kita tidak bisa teruskan," ujar Win, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....