Kisah Pendeta Troy Pantouw: Mimbar Terakhir yang Tak Sempat Tersampaikan

  • 25 Jul 2026 19:54 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara - Di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara yang serba cepat dan melelahkan, ada satu ritme kehidupan yang selalu dijaga dengan teguh oleh Troy Harold Yohanes Pantouw. Sebagai Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, harinya dipenuhi dengan berondongan pertanyaan jurnalis, koordinasi lintas kementerian, hingga strategi kehumasan megaproyek negara. Namun, ketika hari Minggu tiba, Troy selalu memilih untuk kembali pada jangkar kehidupannya: berserah dan mengabdi di hadapan Tuhan.

Bagi pria berusia 58 tahun ini, hari Minggu bukanlah sekadar jeda dari kesibukan dinas. Itu adalah momen sakral di mana ia menanggalkan seluruh atribut jabatannya sebagai Juru Bicara Otorita IKN untuk duduk pasrah sebagai pelayan umat. Di mana pun tugas membawanya, kehadiran di gereja untuk beribadah dan membagikan keteladanan senantiasa menjadi prioritas utama.

Minggu, 26 Juli 2026, sedianya menjadi hari spesial bagi almarhum dan jemaat Gereja Bethany Nusantara FOG Ringroad, Balikpapan. Nama Troy sudah terpampang resmi sebagai pembicara yang akan membawakan firman Tuhan dalam dua sesi Ibadah Raya sekaligus—pukul 08.00 WITA dan 17.00 WITA. Pria kelahiran Surabaya yang mengantongi gelar Master dari Inggris ini telah menyiapkan waktu dan hatinya untuk berdiri di atas mimbar, menyampaikan pesan-pesan pengharapan.

Namun, takdir Tuhan kerap menuliskan jalan yang tak disangka-sangka. Pada Sabtu 25 Juli 2026 sore, sehari sebelum pelayanan itu ditunaikan, kabar duka memecah kesunyian. Troy menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Hermina IKN. Sang Juru Bicara dipanggil pulang menuju peristirahatan abadi, tepat sebelum ia sempat melangkah ke mimbar gereja yang telah menunggunya.

Jejak langkah Troy membuktikan bahwa dedikasi pada pekerjaan duniawi dan kesetiaan iman dapat berjalan bersisian. Pria alumnus Psikologi Untag Surabaya yang mengawali karir dari penyiar radio hingga dipercaya memimpin komunikasi di lembaga-lembaga besar ini, selalu membawa kesejukan yang sama, baik saat menghadapi wartawan maupun saat bersekutu dengan jemaat.

Kini, kursi pembicara di Gereja Bethany Balikpapan pada Minggu itu memang kosong. Suara hangat Troy tak lagi terdengar menggemakan firman di dalam ruang ibadah. Namun, bagi keluarga, kolega di Otorita IKN, serta jemaat yang mengenalnya, Troy telah mengkhotbahkan khotbah terbesarnya melalui pola hidupnya sendiri: sebuah kesetiaan yang tuntas hingga garis akhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....