DP3A Kaltim: KDRT Bukan Urusan Privat, Masyarakat Harus Peduli Terhadap Korban

  • 25 Jun 2026 10:35 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur menilai anggapan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan urusan privat masih menjadi tantangan besar dalam upaya melindungi korban. Cara pandang tersebut membuat banyak kasus tidak tertangani secara maksimal karena korban memilih diam, sementara lingkungan sekitar enggan ikut campur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3A Kalimantan Timur, Anik Nurul Aini, mengatakan untuk mengubah stigma tersebut tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Dibutuhkan peran keluarga, masyarakat, organisasi, hingga para penyintas untuk mendorong korban berani melapor dan mendapatkan perlindungan.

"Banyak yang menganggap ini masih hal yang tabu. Padahal tidak boleh seperti itu. Karena itu kami terus memberikan penguatan dan pendampingan agar korban berani menyampaikan apa yang dialaminya," ujarnya, dikutip Kamis 25 Juni 2026.

Untuk mengubah cara pandang tersebut, DP3A Kaltim pun mengundang sejumlah penyintas KDRT dalam kegiatan nonton bareng film "Suamiku Lukaku" di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda, pada Selasa 23 Juni 2026.

Menurut Anik, penyintas memiliki pengalaman yang dapat menginspirasi korban lain agar tidak terus hidup dalam kekerasan. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pelapor, tetapi juga pelopor yang mengajak perempuan lain berani mencari pertolongan.

"Kami mengundang penyintas supaya mereka punya kekuatan moral dan bisa memberi contoh kepada teman-temannya yang belum berani speak up. Harapannya, yang tadinya pelapor bisa menjadi pelopor," kata dia.

Selain melibatkan penyintas, DP3A Kaltim juga terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan melibatkan berbagai organisasi perempuan yang diharapkan dapat meneruskan pesan tersebut kepada lingkungan masing-masing. Dengan begitu, Anik berharap semakin banyak korban yang berani memecah kebungkaman dan semakin banyak masyarakat sekitarnya yang peduli.

"Perempuan tidak boleh menerima kekerasan dalam bentuk apa pun. Mereka harus berani speak up. Kaltim harus berani memecah kesunyian untuk melawan KDRT," ujarnya, tegas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....