Balikpapan Bangun Ketahanan Pesisir Melalui Gerakan Penanaman Mangrove
- 19 Jun 2026 12:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan – Upaya membangun ketahanan wilayah pesisir melalui gerakan penanaman mangrove terus digencarkan di Kota Balikpapan. Selain berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi dan gelombang laut, mangrove juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta mendukung mitigasi bencana akibat perubahan iklim.
Hal tersebut dibahas dalam dialog Program Kentongan RRI Samarinda yang mengangkat tema “Membangun Ketahanan Pesisir Melalui Gerakan Penanaman Mangrove”. Narasumber kegiatan, Hery Seputro, Pengawas Perikanan pada Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan, menjelaskan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir.
Di sela kegiatan penanaman mangrove di kawasan Lamaru, Balikpapan Timur, Hery menyampaikan bahwa berbagai kegiatan rehabilitasi terus dilakukan bersama sejumlah mitra, termasuk Ditpolairud Polda Kalimantan Timur, perusahaan melalui program CSR, serta kelompok relawan lingkungan.
Menurutnya, ekosistem pesisir yang terdiri atas mangrove, terumbu karang, dan padang lamun merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kerusakan pada salah satu komponen akan berdampak pada keberlangsungan kehidupan biota laut dan mata pencaharian masyarakat pesisir.
“Ekosistem mangrove, terumbu karang, dan padang lamun adalah satu kesatuan. Jika tidak dijaga dan dilestarikan, masyarakat akan kesulitan mencari ikan, kepiting, maupun udang karena habitat utama biota tersebut berada di kawasan pesisir,” ujar Hery Seputro pada Jumat 19 Juni 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan mangrove tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Bibit mangrove yang digunakan dalam kegiatan rehabilitasi sebagian diperoleh dari masyarakat setempat, sehingga turut menciptakan peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.
Selain menjalankan kegiatan penanaman, Hery juga memperkenalkan Program Inovasi SMART yang telah dikembangkannya sejak 1998. Program tersebut merupakan konsep pelestarian terpadu yang menggabungkan perlindungan laut, mangrove, terumbu karang, dan wilayah pesisir sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling mendukung.
Menurut Hery, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup hanya dengan menanam. Tahapan pemeliharaan menjadi faktor penting untuk memastikan tanaman dapat tumbuh dan bertahan hingga dewasa. Ia menilai banyak program penanaman yang kurang optimal karena tidak diikuti dengan perawatan yang memadai setelah penanaman dilakukan.
“Jangan hanya menanam lalu ditinggalkan. Mangrove harus dipelihara minimal selama dua tahun. Jika ada yang mati harus disulam kembali, sampah yang mengganggu pertumbuhan harus dibersihkan, sehingga tingkat keberhasilannya tinggi dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Hery juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari generasi muda, perusahaan, komunitas lingkungan, pemerintah, hingga aparat TNI dan Polri untuk terlibat aktif dalam menjaga ekosistem pesisir. Menurutnya, pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Dengan semakin luasnya gerakan penanaman dan pemeliharaan mangrove, ketahanan pesisir di Kalimantan Timur diharapkan semakin kuat sekaligus mampu menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....