PUPR Soroti Pembukaan Lahan, Drainase Samarinda Cepat Penuh Lumpur
- 16 Jun 2026 10:23 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda- Upaya Pemerintah Kota Samarinda mengurangi banjir tidak hanya menghadapi persoalan kapasitas drainase, tetapi juga sedimentasi yang terus berulang akibat pembukaan lahan di sejumlah kawasan. Kondisi ini membuat saluran air yang sudah dibersihkan kembali dipenuhi lumpur hanya dalam waktu singkat.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Darmadi, mengatakan sedimentasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pemeliharaan sistem drainase perkotaan.
Menurutnya, material tanah dari kawasan yang mengalami pembukaan lahan kerap terbawa aliran air hujan menuju drainase kota. Akibatnya kapasitas saluran berkurang dan kemampuan mengalirkan air menjadi tidak optimal.
"Kadang hujan satu atau dua kali saja sedimen sudah masuk lagi ke saluran. Lumpur dan pasir terbawa dari daerah yang mengalami pembukaan lahan," katanya kepada rri.co.id, Selasa 16 Juni 2026.
Ia menjelaskan sedimentasi berbeda dengan persoalan sampah rumah tangga yang selama ini sering dianggap sebagai penyebab utama banjir. Pada sejumlah lokasi, endapan tanah justru menjadi faktor dominan yang membuat saluran cepat dangkal.
Kondisi tersebut banyak ditemukan pada kawasan yang berada di hilir daerah perbukitan maupun wilayah yang mengalami perkembangan permukiman cukup pesat. Saat hujan turun, tanah yang terbuka mudah tergerus dan masuk ke jaringan drainase.
Darmadi mengatakan PUPR Samarinda secara rutin melakukan pengerukan sedimentasi melalui UPTD Drainase dan tim Hantu Banyu. Namun upaya tersebut sering kali harus dilakukan berulang karena endapan lumpur kembali muncul setelah hujan deras.
Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dengan membangun drainase baru. Pengendalian aktivitas pembukaan lahan dan pengelolaan kawasan hulu juga menjadi faktor penting untuk menjaga fungsi saluran air dalam jangka panjang.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat diperlukan agar pembangunan kawasan baru tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan dan pengendalian limpasan air hujan.
"Kalau sumber sedimentasinya tidak dikendalikan, saluran yang sudah dibangun dan dibersihkan akan terus mengalami pendangkalan. Ini yang harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.
Darmadi berharap kesadaran semua pihak terhadap pentingnya menjaga daerah tangkapan air dan mengendalikan erosi dapat membantu mengurangi beban drainase perkotaan. Dengan demikian, efektivitas berbagai proyek pengendalian banjir yang telah dibangun pemerintah dapat lebih maksimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....