Seperempat Remaja Kehilangan Figur Ayah, Ini Dampaknya

  • 08 Jun 2026 11:46 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda- Fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah dalam kehidupan anak menjadi perhatian serius Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi remaja, mulai dari krisis kepercayaan diri, lemahnya perencanaan masa depan, hingga meningkatnya kerentanan terhadap pengaruh lingkungan negatif.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, mengatakan kehadiran ayah dalam keluarga tidak cukup hanya secara fisik. Anak juga membutuhkan kedekatan emosional, perhatian, dan keterlibatan ayah dalam proses tumbuh kembangnya.

Hal itu disampaikan Sunarto saat menghadiri Kick Off Pelayanan KB dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Gedung PKK Kota Samarinda, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Sunarto, hasil berbagai survei menunjukkan masih banyak remaja yang merasa kehilangan figur ayah dalam kehidupannya. Kondisi tersebut tidak selalu berarti ayah tidak tinggal serumah, tetapi lebih pada minimnya interaksi dan komunikasi antara ayah dan anak.

“Lebih dari seperempat keluarga yang memiliki remaja, anaknya mengatakan kehilangan sosok ayah atau fatherless,” ujarnya.

Ia menilai banyak orang tua, khususnya ayah, belum menyediakan waktu yang cukup untuk membangun komunikasi berkualitas dengan anak. Interaksi yang terjadi umumnya hanya berkisar pada urusan sekolah, tugas, atau kebutuhan sehari-hari, tanpa menyentuh persoalan yang lebih mendalam terkait cita-cita, tantangan hidup, maupun kondisi emosional anak.

Sunarto menuturkan ketika anak merasa ayah tidak hadir dalam kehidupan emosionalnya, mereka cenderung mencari ruang lain untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan. Kondisi itu berpotensi membuat remaja lebih mudah terpengaruh lingkungan yang tidak selalu memberikan dampak positif.

“Ketika merasa ayahnya tidak hadir dalam hidupnya, ke mana dia pergi? Ini yang harus menjadi perhatian kita bersama,” katanya.

Sebagai langkah mengatasi persoalan tersebut, BKKBN mengembangkan Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program tersebut mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak melalui berbagai aktivitas sederhana, seperti mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, hingga meluangkan waktu berdiskusi secara rutin.

Menurut Sunarto, peran ayah sangat penting dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan anak dalam mengambil keputusan di masa depan. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga harus dimulai dari peningkatan kualitas hubungan antara orang tua dan anak.

“Ayah harus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Kehadiran ayah bukan hanya soal ada di rumah, tetapi juga hadir dalam kehidupan dan perasaan anak,” ucapnya.

Ia berharap kesadaran para orang tua terhadap pentingnya peran ayah dalam pengasuhan terus meningkat. Dengan keluarga yang lebih kuat, berbagai persoalan sosial yang mengancam generasi muda dapat dicegah sejak dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....