Rumah Singgah Dekat RS AWS Permudah Pengobatan

  • 02 Jun 2026 08:41 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Di tengah hiruk pikuk aktivitas RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, berdiri sebuah rumah sederhana di Jalan Dr. Soewondo yang menjadi tempat singgah sekaligus harapan bagi pasien kanker dari berbagai daerah di Indonesia Timur. Rumah Singgah Kanker itu hadir untuk membantu pasien yang harus menjalani pengobatan jangka panjang jauh dari kampung halaman mereka.

Lokasinya yang hanya sekitar 220 meter dari RSUD AWS membuat pasien dapat dengan mudah menjangkau rumah sakit, bahkan cukup berjalan kaki. Kedekatan akses itu menjadi penting, mengingat sebagian besar pasien harus rutin menjalani kemoterapi, radioterapi, hingga kontrol kesehatan selama berbulan-bulan.

Sekretaris Yayasan Rumah Singgah, Aditya Lesmana, mengatakan rumah singgah tersebut lahir dari keresahan para relawan yang kerap melihat pasien dan keluarga bertahan di sekitar rumah sakit tanpa tempat tinggal layak.

“Dulu kami sering lihat pasien dan keluarganya tinggal sementara di masjid sekitar rumah sakit. Dari situ muncul pikiran, harus ada tempat untuk mereka beristirahat, terutama pasien kanker yang pengobatannya panjang,” katanya kepada rri.co.id Selasa 2 Juni 2026.

Ia menjelaskan rumah singgah mulai berdiri pada 2017 melalui dukungan gotong royong komunitas, relawan dan para donatur. Hingga kini, seluruh operasional masih dijalankan secara mandiri dengan status rumah kontrakan.

Menurut Aditya, pasien yang datang tidak hanya berasal dari Kalimantan Timur, tetapi juga dari berbagai wilayah Indonesia Timur seperti Tarakan hingga Kendari. Sebagian besar merupakan keluarga kurang mampu yang membutuhkan tempat tinggal selama proses pengobatan.

“Pengobatan kanker itu bukan sehari dua hari. Ada yang berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Kalau harus bolak-balik tentu berat untuk biaya dan kondisi pasien, jadi mereka tinggal di sini,” ujarnya.

Saat ini sekitar 15 pasien dan pendamping tinggal di rumah singgah tersebut. Meski kapasitas terbatas, pihak yayasan mengaku berupaya tidak menolak pasien yang membutuhkan pertolongan.

“Prinsip kami jangan sampai ada yang terlantar. Walaupun penuh, kami tetap carikan tempat seadanya. Yang penting mereka tidak kehujanan dan masih bisa makan,” ucapnya.

Selain menyediakan tempat tinggal sementara, rumah singgah juga membantu kebutuhan dasar pasien seperti beras, telur, kursi roda hingga dukungan transportasi darurat. Setiap akhir pekan, relawan dan tenaga kesehatan turut menggelar edukasi kesehatan, pemeriksaan dasar hingga pendampingan psikologis bagi pasien dan keluarga.

Aditya berharap keberadaan rumah singgah dapat terus mendapat dukungan masyarakat maupun pemerintah, agar semakin banyak pasien kanker dari daerah yang terbantu menjalani pengobatan di Samarinda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....