Daya Beli Masyarakat Menurun, Omzet UMKM Catering di Samarinda Tertekan 50 Persen

  • 24 Mei 2026 19:45 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Melemahnya daya beli masyarakat mulai dirasakan pelaku UMKM di Kota Samarinda. Salah satunya dialami usaha catering rumahan milik Sri di Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda yang mengaku penjualannya turun hingga hampir 50 persen dalam beberapa waktu terakhir.

Sri mengatakan, penurunan paling terasa datang dari pelanggan sekolah dan perkantoran yang selama ini menjadi langganan tetapnya. “Biasanya orang sekolah dalam satu bulan sering pesan beberapa kali, sekarang kadang cuma sekali bahkan tidak ada sama sekali,” ujarnya, kepada rri.co.id, Minggu, 24 Mei 2026.

Ia menuturkan, pesanan dari kantor memang masih ada, tetapi jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya. Menurutnya, banyak pelanggan kini lebih selektif membelanjakan uangnya di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Sri menduga kondisi ekonomi membuat banyak instansi maupun rumah tangga mulai menekan pengeluaran, termasuk untuk konsumsi katering dan makanan siap saji.

“Kalau kantoran masih ada, tapi mungkin sekarang lagi musim hemat. Mereka beli yang benar-benar dibutuhkan saja,” kata dia.

Meski harga bahan kebutuhan terus meningkat, Sri mengaku belum berani menaikkan harga jual makanannya. Ia memilih mempertahankan harga dan kualitas demi menjaga pelanggan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.

Berbagai menu masih dijual dengan harga terjangkau, mulai dari makanan ringan, nasi box hingga paket ekonomis untuk Jumat Berkah dan takjil.

Untuk paket ekonomis, harga makanan dibanderol mulai Rp6 ribu per mika. Sementara, nasi box dijual mulai Rp15 ribu atau Rp20 ribu ke atas, tergantung menu yang diminta pelanggan.

“Harga tetap, kualitas juga tetap. Cari pelanggan sekarang susah, jadi saya masih bertahan dengan harga yang ada,” ujarnya.

Tak hanya dirinya, Sri mengatakan kondisi serupa juga dialami sejumlah pelaku UMKM makanan lainnya di Samarinda. Ia mencontohkan rekannya, seorang penjual nasi kuning dan nasi pecel yang juga mengeluhkan bahwa penjualannya belakangan ini tidak menentu.

Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi kebutuhan rumah tangga yang meningkat menjelang tahun ajaran baru sekolah, sehingga masyarakat lebih memprioritaskan pengeluaran untuk pendidikan anak.

“Teman saya yang jual nasi kuning juga bilang sekarang kadang ramai, kadang sepi. Mungkin ibu-ibu lagi banyak menyiapkan kebutuhan sekolah anak,” kata Sri, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....