Bangun Kembali Hutan Borneo, Konservasi Orangutan Libatkan Peran Masyarakat

  • 30 Apr 2026 10:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samboja - Upaya melindungi orangutan di Pulau Borneo tidak bisa dilepaskan dari kondisi hutan sebagai habitat utamanya. Dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan konservasi semakin menekankan bahwa menjaga kelangsungan hidup orangutan berarti memastikan hutan tempat mereka hidup tetap lestari, bahkan harus dipulihkan dari kerusakan yang terjadi.

Sejak awal 1990-an, berbagai inisiatif konservasi mulai mengarah pada pembangunan kembali ekosistem hutan yang rusak. Kawasan yang sebelumnya terdegradasi akibat pembalakan liar, kebakaran, hingga alih fungsi lahan perlahan direhabilitasi melalui penanaman kembali pohon-pohon asli hutan tropis Kalimantan. Langkah ini bukan sekadar penghijauan, melainkan upaya mengembalikan fungsi ekologis hutan sebagai sumber pakan, tempat berlindung, sekaligus ruang berkembang biak bagi orangutan.

Manajer Regional Kalimantan Timur dari Borneo Orangutan Survival Foundation, Aldrianto Priadjati, menegaskan bahwa keberhasilan konservasi orangutan sangat ditentukan oleh kualitas habitatnya.

“Kalau kita bicara menyelamatkan orangutan, sebenarnya yang paling utama adalah menyelamatkan hutannya. Tanpa hutan yang sehat, orangutan tidak punya tempat hidup,” ujarnya.

Menurutnya, hutan bagi orangutan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga sumber kehidupan. Di dalam hutan, orangutan bergantung pada ratusan jenis tumbuhan untuk makanan, mulai dari buah-buahan, daun muda, hingga kulit kayu. Kerusakan hutan secara langsung akan memutus rantai makanan dan memaksa orangutan keluar dari habitatnya, yang seringkali berujung pada konflik dengan manusia.

Karena itu, upaya rehabilitasi hutan dilakukan secara sistematis. Seperti yang dilakukan Yayasan BOS Samboja Lestari. Mereka memutuskan membangun hutan tidak jauh dari kota, yang kini menjadi pusat rehabilitasi sekaligus sekolah hutan bagi orangutan dan beruang madu. Di sana juga ada pulau-pulau pra-pelepasliaran yang dibangun untuk orangutan yang tidak bisa kembali pulang ke hutan rimba.

"Kita bangun hutan dengan cara yang sederhana tapi sistematis. Kita tanam pohon terstruktur, kita bangun embung dan kita jaga agar tidak kebakaran. Memang bicaranya gampang, karena faktor di lapangan sebenarnya sangat sulit. Tapi apa yang kita lakukan dulu, bisa kita lihat hasilnya hari ini," sebutnya.

Dalam mengembalikan ekosistem hutan, Aldrin menegaskan tidak hanya menanam pohon, tetapi juga memastikan keanekaragaman hayati kembali terbentuk. Proses ini membutuhkan waktu panjang, bahkan puluhan tahun, hingga sebuah kawasan benar-benar kembali menyerupai hutan alami yang mampu menopang kehidupan satwa liar.

Seiring dengan pemulihan habitat, program pelepasliaran orangutan juga dilakukan secara bertahap. Orangutan yang sebelumnya direhabilitasi dilepas ke hutan yang telah dipastikan memiliki daya dukung yang cukup. Hal ini penting agar mereka dapat bertahan hidup secara mandiri tanpa bergantung pada manusia.

Di sisi lain, fasilitas suaka tetap berperan penting dalam merawat individu orangutan yang belum siap dilepasliarkan. Di tempat ini, orangutan menjalani proses pemulihan kesehatan dan pembelajaran perilaku alami, seperti mencari makan dan membuat sarang, sebelum kembali ke alam liar.

Pendekatan konservasi juga semakin menempatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Warga yang tinggal di sekitar hutan dilibatkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari penanaman pohon, patroli kawasan, hingga pengelolaan hutan berbasis komunitas. Keterlibatan ini dinilai mampu menumbuhkan rasa memiliki sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan.

Selain itu, program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan juga dikembangkan. Masyarakat didorong untuk mengelola sumber daya alam secara bijak melalui usaha ramah lingkungan, seperti agroforestri dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu. Dengan demikian, kebutuhan ekonomi dapat terpenuhi tanpa harus merusak hutan.

Aldrianto menekankan bahwa masa depan orangutan sangat bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan hutan hari ini. “Hutan yang kita jaga sekarang adalah rumah bagi orangutan di masa depan. Kalau hutannya hilang, orangutan juga akan hilang,” katanya.

Upaya membangun kembali hutan Borneo menjadi bukti bahwa konservasi bukan pekerjaan instan. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, kolaborasi berbagai pihak, serta kesadaran kolektif bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan itu sendiri. Dengan hutan yang kembali lestari, harapan bagi keberlangsungan orangutan pun tetap terjaga.






google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....