Diskusi Kartini 2026 di Samarinda Luruskan Persepsi Keliru tentang Feminisme
- 26 Apr 2026 07:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Peringatan Hari Kartini 2026 di Kota Samarinda diisi dengan Diskusi Publik yang digelar di Aula Perpustakaan Kota Samarinda, pada Sabtu 25 April 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Perempuan Kalimantan Timur Dulu dan Kini, Setara Belum? Aman Belum?”. Forum ini menghadirkan berbagai narasumber untuk memperkaya pemahaman masyarakat terkait isu perempuan.
Sejarawan publik Samarinda, Muhammad Sarip, menilai selama ini masyarakat masih memiliki persepsi keliru terhadap feminisme. Ia menyebut, isu tersebut sering dianggap menakutkan atau bertentangan dengan nilai sosial. Padahal, esensi feminisme justru memberikan ruang pilihan yang setara bagi perempuan.
Menurut Sarip, perempuan memiliki kebebasan menentukan jalan hidup, termasuk memilih menjadi ibu rumah tangga. Pilihan tersebut tidak bisa dianggap lebih rendah dibanding profesi lain.
“Ibu rumah tangga itu pilihan. Kalau dia memang senang, tidak masalah. Feminisme bukan berarti perempuan harus menguasai laki-laki atau meninggalkan kodratnya, itu pemahaman yang keliru,” ujarnya.
Ia juga menyoroti diskusi feminisme selama ini cenderung hanya beredar di kalangan terbatas. Hal tersebut membuat pemahaman masyarakat luas tidak berkembang secara merata.
Sarip menilai, forum seperti ini penting agar masyarakat umum, termasuk keluarga, bisa mendapatkan wawasan baru. Dengan begitu, stigma negatif terhadap feminisme dapat dikurangi secara perlahan.
“Minimal masyarakat pulang membawa wawasan bahwa isu feminisme tidak seburuk yang dibayangkan. Tidak hanya sekadar wacana, tapi memberi pemahaman nyata,” katanya.
Diskusi ini menegaskan persoalan kesetaraan gender bukan sekadar wacana akademik, melainkan realitas yang masih dihadapi di tengah masyarakat. Berbagai pandangan yang muncul dalam forum tersebut menunjukkan pemahaman tentang feminisme masih membutuhkan ruang dialog yang lebih luas dan terbuka.
Beragam perspektif yang disampaikan narasumber sekaligus menggambarkan isu perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan pola pikir, budaya, dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. (zulf)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....