Inovasi Biochar Perkuat Ketahanan Pangan dan Lingkungan di Kaltim
- 20 Apr 2026 07:18 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur mendorong penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan melalui demplot padi berbasis biochar metode non-AWD di Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan berkelanjutan.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan meninjau langsung sekaligus mengikuti panen bersama pada lahan percontohan seluas sekitar 700 meter persegi di Jalan Usaha Tani (Betapus), Jumat 17 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari uji coba inovasi budidaya padi yang mengintegrasikan aspek produktivitas, efisiensi biaya, serta keberlanjutan lingkungan.
Dalam keterangannya, Fahmi menegaskan bahwa pengembangan demplot tersebut tidak sekadar menghadirkan inovasi teknis, tetapi juga menjawab tantangan nasional terkait ketahanan pangan. “Demplot itu kita lakukan bukan hanya sekadar memberikan solusi, tetapi solusi yang inovatif dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan di wilayah kita, terutama terkait ketahanan pangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan biochar non-AWD dinilai mampu memenuhi tiga pilar utama pembangunan pertanian berkelanjutan, yakni aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi, peningkatan produktivitas diharapkan berdampak langsung pada profitabilitas dan kesejahteraan petani.
“Kalau produktivitas meningkat, profitabilitas meningkat, maka kesejahteraan petani juga akan meningkat. Ini yang sedang kita ukur melalui demplot ini,” ujarnya.
Dari aspek sosial, program ini melibatkan petani secara aktif melalui kelembagaan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Puri Leisa. Keterlibatan tersebut dinilai memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendorong adopsi teknologi di tingkat lapangan.
Sementara dari aspek lingkungan, penggunaan biochar disebut mampu menekan emisi gas rumah kaca yang selama ini menjadi tantangan dalam sektor pertanian. “Aspek lingkungan ini sering terlupakan, padahal ke depan pertanian kita harus berkelanjutan. Penggunaan biochar ini dapat mengurangi emisi gas metana dan memperbaiki kondisi tanah,” katanya.
Biochar sendiri merupakan arang hayati hasil pembakaran biomassa dalam kondisi minim oksigen, seperti tempurung kelapa atau limbah kayu. Pada metode non-AWD, lahan sawah tidak mengalami siklus pengeringan berkala sehingga kondisi air lebih stabil.
Ketua P4S Puri Leisa, Bambang, menjelaskan bahwa bahan baku biochar dapat disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing daerah. “Pada dasarnya biochar bisa dibuat dari berbagai bahan. Di sini kami menggunakan tempurung kelapa dan limbah kayu, karena kandungan ligninnya tinggi dan cocok untuk lahan padi,” ucapnya.
Ia menambahkan, ketersediaan bahan baku di Kalimantan relatif melimpah sehingga teknologi ini berpotensi diterapkan secara luas. Penyesuaian bahan baku dengan kearifan lokal menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan biochar di berbagai wilayah.
Pemerintah daerah berharap demplot ini dapat menjadi model pengembangan pertanian modern berbasis inovasi lokal. Replikasi teknologi biochar non-AWD diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
“Ini menjadi bukti nyata di lapangan bahwa pendekatan ini bisa diterapkan. Ke depan akan kita dorong untuk diperluas dan direplikasi sesuai kondisi masing-masing daerah,” ujar Fahmi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....