Antisipasi Kebencanaan dan Kekeringan di Kutai Barat

  • 24 Feb 2026 08:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Cuaca yang tidak menentu, suhu yang meningkat, serta potensi bencana hidrometeorologi menjadi menjadi bahasan dalam program Halo Kaltim Pro1 RRI Samarinda, dikutip Selasa 24 Februari 2026. Langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko serta dampak kerugian yang mungkin terjadi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kutai Barat, Bambang Pramudito, menjelaskan jenis bencana yang paling sering terjadi di wilayahnya adalah banjir, tanah longsor, serta kebakaran. “Kalau untuk Kutai Barat yang sering terjadi itu banjir, tanah longsor dan ini kebakaran, termasuk kebakaran permukiman dan kebakaran hutan,” ucap Bambang kepada RRI, melalui sambungan Zoom.

Pernyataan tersebut menegaskan, wilayah Kutai Barat memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam. Selain itu, Bambang juga memaparkan data kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam dua tahun terakhir. Ia mengatakan, pada periode sebelumnya tercatat 86 kejadian, sementara tahun kemarin menurun menjadi 51 kejadian.

“Tahun kemarin itu cuma 51 kejadian, semakin turun karena musim penghujan lebih banyak dibandingkan musim kemarau,” kata Bambang. Penurunan angka ini menjadi kabar baik, meski tetap perlu diantisipasi karena perubahan cuaca dapat terjadi sewaktu-waktu.

Meski demikian, tanda-tanda peningkatan suhu mulai dirasakan masyarakat. Bambang mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir suhu di Kutai Barat mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius. Kondisi ini memunculkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan, terutama di daerah yang minim curah hujan.

“Saat ini sudah ada tanda-tanda panas, suhu mencapai 33 sampai 34 derajat, hujan pun hanya beberapa wilayah saja dan tidak merata,” ujar Bambang.

Dijelaskannya, upaya antisipasi yang telah dilakukan meliputi sosialisasi, imbauan kewaspadaan, serta koordinasi melalui berbagai forum, termasuk siaran radio dan pertemuan daring. “Kami sudah mengimbau masyarakat dan sudah kami sampaikan melalui berbagai kesempatan agar selalu waspada,” ujar Bambang menegaskan.

Ia juga menyebutkan, kejadian longsor di beberapa titik tidak menimbulkan korban jiwa karena masyarakat sudah lebih siap dan tanggap. Dengan meningkatnya suhu dan potensi kekeringan, masyarakat diimbau untuk bijak menggunakan air serta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

Dari sisi sosial, penggerak swadaya masyarakat ahli pertama bidang penanganan bencana Dinas Sosial Kalimantan Timur, Arif Maulana, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menilai kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat. Keterlibatan masyarakat dinilai efektif dalam mempercepat respons saat terjadi keadaan darurat.

“Kami terus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam penanganan bencana agar dampaknya bisa ditekan,” ucap Arif.

Sementara itu, operator layanan operasional Pusdalop Penanggulangan Bencana BPBD Kaltim, Muriono, menambahkan sistem pemantauan terus dilakukan secara berkala. Menurutnya, koordinasi antarlembaga menjadi faktor penting dalam memastikan informasi tersampaikan dengan cepat dan akurat kepada masyarakat.

“Kami tetap siaga memantau perkembangan cuaca dan potensi kejadian. Kesiapsiagaan sejak dini menjadi langkah strategis dalam menghadapi dinamika cuaca yang kian sulit diprediksi,” kata Muriono.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait berkomitmen memperkuat sistem mitigasi guna mengurangi risiko bencana di Kutai Barat sepanjang tahun ini. Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat, diharapkan potensi kerugian akibat banjir, longsor, maupun kebakaran dapat ditekan seminimal mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....