Kader TPK Kaltim Kawal MBG Door-to-Door

  • 07 Feb 2026 16:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memiliki tantangan berbeda dibandingkan program di lingkungan sekolah. Penyaluran makanan tidak cukup hanya diantar, tetapi harus disertai edukasi langsung kepada keluarga penerima. Para kader Tim Pendamping Keluarga kini berperan seperti polisi gizi yang mendatangi rumah warga dari pintu ke pintu.

Penyuluh KB Ahli Muda, Darna, menjelaskan pola distribusi door-to-door dilakukan agar intervensi gizi benar-benar tepat sasaran. Di lapangan masih ditemukan kebiasaan berbagi makanan dalam keluarga sehingga paket yang seharusnya dikonsumsi ibu hamil atau balita justru dimakan anggota lain. Kondisi itu menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan program MBG.

“Edukasi adalah kunci, jangan sampai makanan yang sudah diatur gizinya oleh ahli gizi untuk ibu hamil justru dimakan oleh anggota keluarga lain. Kader kami harus cerewet mengingatkan agar paket tersebut dikonsumsi sendiri oleh target sasaran,” ujar Darna dalam Dialog Indonesia Sehat di RRI Samarinda. Menurutnya pendekatan persuasif lebih efektif dibanding hanya memberi imbauan tertulis.

Selain mengantar makanan dua kali dalam sepekan, kader TPK juga melakukan pendampingan berkelanjutan kepada keluarga penerima manfaat. Mereka memantau apakah menu yang diberikan benar-benar dihabiskan oleh sasaran utama. Catatan lapangan tersebut kemudian dilaporkan untuk bahan evaluasi program.

Program ini juga mewajibkan pertemuan rutin satu kali dalam sebulan di Posyandu. Pada kesempatan itu dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan perkembangan kesehatan balita. Data tersebut menjadi indikator apakah intervensi gizi mulai menunjukkan hasil.

Pemerintah daerah berharap pola pendampingan intensif mampu menekan angka stunting di Kalimantan Timur. Bantuan makanan diposisikan sebagai stimulan yang harus diikuti perubahan perilaku keluarga. Peran kader menjadi ujung tombak karena mereka yang paling dekat dengan masyarakat.

Darna menambahkan, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada kualitas menu, tetapi juga kedisiplinan keluarga penerima. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, dan orang tua dinilai menentukan masa depan generasi emas di Bumi Etam. Edukasi gizi akan terus diperkuat agar tujuan program dapat tercapai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....