Menjelang Ramadan, Pedagang Pasar Pagi Samarinda Minta Kepastian
- 03 Feb 2026 16:56 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pedagang penyewa Pasar Pagi Samarinda menyampaikan keluhan terkait minimnya informasi resmi mengenai penempatan kios tahap kedua pascarevitalisasi. Keluhan tersebut disampaikan dalam rapat hearing bersama Komisi II DPRD Kota Samarinda yang digelar pada Selasa 3 Februari 2026.
Ketidakjelasan informasi dinilai menimbulkan kebingungan di kalangan pedagang, terutama menjelang bulan Ramadan yang biasanya menjadi momentum peningkatan aktivitas jual beli. Para pedagang mengaku kesulitan menyusun perencanaan usaha karena belum mengetahui kepastian lokasi berjualan.
Koordinator pedagang penyewa, Ady, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima keterangan resmi dan valid dari Dinas Perdagangan. Kondisi tersebut membuat para pedagang saling berspekulasi dan memperbesar ketidakpastian di lapangan.
Ady menjelaskan, sebagian besar pedagang penyewa saat ini masih berjualan di Pasar Segiri sebagai lokasi relokasi sementara. Meski berada di tempat tersebut, para pedagang tetap dibebani biaya sewa yang harus dibayarkan setiap bulan.
“Mau enggak mau kami tetap bayar sewa. Daripada barang dibawa pulang, mau diapakan,” katanya. Ia menyebut besaran sewa yang dibayarkan pedagang bervariasi, tergantung jenis lapak serta posisi lokasi berjualan.
Lebih lanjut, Ady mengungkapkan jumlah pedagang penyewa yang terdata sementara mencapai sekitar 180 orang di Pasar Segiri. Namun, angka tersebut belum mencakup seluruh pedagang yang direlokasi ke pasar lain seperti Sungai Dama atau lokasi relokasi lainnya.
Menurut Ady, para pedagang berharap DPRD Kota Samarinda dapat menjadi jembatan komunikasi antara pedagang dan pemerintah kota. Peran wakil rakyat dinilai penting untuk mendorong kejelasan kebijakan serta mempercepat keputusan terkait penempatan kios tahap kedua.
Para pedagang menilai kepastian kebijakan menjadi faktor utama agar aktivitas perdagangan dapat kembali berjalan normal dan stabil. Mereka menunggu keputusan tahap kedua yang dinilai krusial bagi keberlangsungan usaha, terutama dalam menghadapi momen ekonomi penting seperti bulan Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....