Kelurahan Sengkotek Perkuat Mitigasi Kebencanaan

  • 03 Feb 2026 14:34 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi perhatian serius di Kota Samarinda. Bukan hanya bencana alam seperti banjir, namun bencana lain yang bisa disebabkan oleh kelalaian dari manusia seperti kebakaran.

Hal tersebut mengemuka dalam program siaran Kentongan RRI Pro 1 Samarinda.  Program ini menyoroti peran komunitas terkecil, mulai dari kelurahan hingga RT, dalam membangun kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Samarinda dikenal memiliki karakteristik wilayah yang unik, namun juga menyimpan risiko bencana seperti banjir, longsor, dan kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk dan perbukitan.

Lurah Sengkotek, May Fadly, mengatakan, secara geografis wilayahnya relatif jarang terdampak banjir. Namun, potensi kebakaran justru menjadi ancaman terbesar bagi warga. “Untuk Kelurahan Sengkotek sendiri, kerawanan banjir sangat jarang karena posisinya di pinggiran Sungai Mahakam dan wilayahnya berbukit. Yang paling besar justru potensi kebakaran,” ujar May Fadly kepada RRI, dilansir dari youtube RRI Samarinda, Selasa 3 Februari 2026.

Ia menjelaskan, sebagian besar permukiman warga di Sengkotek masih didominasi rumah berbahan kayu yang saling berhimpitan di gang-gang sempit. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran, meski beberapa waktu lalu juga sempat terjadi longsor kecil di wilayah terbuka yang langsung ditangani oleh pihak pengelola perumahan swasta.

Menurut May Fadly, pihak kelurahan terus melakukan berbagai upaya mitigasi kebakaran dengan melibatkan RT dan warga. “Kami rutin melakukan mitigasi bersama RT dan masyarakat. Alhamdulillah, melalui program Probebaya, kami bisa menganggarkan kegiatan pelatihan dan pengadaan alat-alat penanggulangan kebakaran,” ucapnya.

Ia menambahkan, salah satu RT yang aktif dalam mitigasi adalah RT 17, yang wilayahnya berada di bantaran sungai. “Tahun lalu, RT 17 mendapatkan bantuan perahu untuk mendukung mitigasi kebakaran di wilayah pinggir sungai. Ini sangat membantu karena banyak rumah warga berada di sana,” katanya.

May Fadly juga mengungkapkan, sekitar 60 persen wilayah Kelurahan Sengkotek merupakan lahan milik perusahaan, sementara 40 persen sisanya ditempati warga, mayoritas di sepanjang sungai. Meski warga sudah terbiasa dengan kondisi pasang air, ancaman kebakaran tetap menjadi fokus utama penanganan kebencanaan.

Selain penguatan sarana dan prasarana, kelurahan juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat. “Mitigasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus ikut andil, memiliki pengetahuan dasar, termasuk menggunakan alat pemadam api ringan atau APAR di rumah masing-masing,” ujar May Fadly menambahkan.

Ia menilai, kesadaran warga Sengkotek terhadap kebencanaan cukup tinggi. Hal ini terlihat saat terjadi bencana di wilayah lain. “Kemarin, saat terjadi banjir di kawasan Tani Aman, warga kami ikut membuka dapur umum untuk membantu kelurahan tetangga. Ini bentuk kepedulian sosial yang patut diapresiasi,” katanya.

Ke depan, Kelurahan Sengkotek juga berencana memperkuat pemetaan titik kumpul evakuasi dan pemasangan rambu-rambu kebencanaan. Meski secara internal peta kerawanan sudah dimiliki, ia berharap tahun ini dapat direalisasikan secara fisik di lapangan melalui dukungan anggaran dan kolaborasi lintas pihak.

Melalui sinergi aparatur kelurahan, RT, relawan, dan masyarakat, Kelurahan Sengkotek optimistis dapat membangun sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh, responsif, dan berbasis partisipasi warga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....