Profesionalisme Jadi Kunci Sukses Film Lokal Kalimantan

  • 28 Jan 2026 15:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Keberhasilan film Kuyank dinilai bisa menjadi bahan pembelajaran penting bagi komunitas film lokal di Kalimantan dalam membangun industri yang lebih profesional dan berkelanjutan. Film ini dianggap memberi contoh karya lokal bisa bersaing jika digarap dengan perencanaan matang dan keseriusan di setiap tahap produksi.

Hal itu disampaikan Sejarawan Publik, Muhammad Sarip, dalam diskusi Sumbu Tengah edisi ke-9 yang digelar di Samarinda. Ia menilai, banyak kegagalan film lokal di masa lalu bukan semata karena keterbatasan dana, melainkan akibat proses produksi yang tidak digarap secara serius dan kurang berbasis perencanaan. “Kita pernah bikin yang seperti ini tapi gagal. Ternyata setelah dibandingkan, kuncinya ada di profesionalisme,” ujarnya.

Sarip menjelaskan, profesionalisme yang dimaksud mencakup banyak aspek, mulai dari riset, penulisan naskah, pemilihan pemain, hingga penggarapan detail budaya yang diangkat. Menurutnya, film Kuyank menunjukkan upaya itu dengan tidak menjadikan unsur kebudayaan sekadar pemanis atau tempelan cerita.

Dalam film tersebut, unsur budaya seperti upacara adat dan adegan kolosal dibuat khusus untuk kebutuhan film. Proses ini, kata Sarip, melibatkan kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku budaya lokal, sehingga hasilnya terasa lebih otentik.

“Ini murni dibuat untuk film, bukan memanfaatkan acara yang sudah ada supaya murah. Dan itu melibatkan kolaborasi dengan orang-orang lokal,” katanya.

Sarip juga menyinggung kegagalan sejumlah produksi sebelumnya yang dikerjakan oleh tim dari luar daerah dengan waktu riset yang sangat singkat. Menurutnya, riset yang hanya dilakukan sekitar satu minggu jelas tidak cukup untuk memahami konteks budaya dan karakter lokal yang ingin diangkat ke layar lebar.

Selain itu, Sarip menekankan pentingnya menjaga independensi produksi dengan menolak intervensi dan “titipan” dalam proses pembuatan film. Menurutnya, terlalu banyak kepentingan di luar kebutuhan artistik justru akan mengganggu fokus cerita dan kualitas akhir film. (Zulfikar)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....