Prinsip Pemupukan 5T untuk Pertanian Efisien di Kaltim

  • 11 Des 2025 09:51 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Pemupukan bukan sekadar memberi nutrisi, tetapi harus dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab. Hal itu disampaikan Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama BRMP Kalimantan Timur, Muhammad Iqbal Pratama, saat dialog dalam program Mozaik Indonesia Pro1 Samarinda, beberapa waktu lalu.

Dalam program tersebut, membahas prinsip pemupukan 5T untuk meningkatkan hasil panen dan menjaga kelestarian lingkungan. Iqbal menjelaskan, prinsip 5T terdiri dari tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat. Ia menekankan pentingnya pemahaman fase vegetatif dan generatif tanaman agar pemupukan sesuai kebutuhan.

“Dengan menerapkan prinsip 5T, pupuk yang diberikan benar-benar terserap oleh tanaman, tidak mubazir, dan tetap hemat,” ucapnya, dikutip Kamis (11/12/2025).

Dalam praktiknya, tepat jenis berarti memilih pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah. Penyesuaian pupuk dengan fase pertumbuhan tanaman menjadi kunci keberhasilan pemupukan. “Misalnya tanaman padi membutuhkan nitrogen tinggi, sehingga urea lebih dominan digunakan. Sementara cabai dan tomat memerlukan kalium untuk pembentukan buah,” kata Iqbal.

Sementara tepat dosis menekankan pemberian jumlah pupuk sesuai kebutuhan. Ia menambahkan bahwa dosis yang berlebihan juga dapat mencemari air permukaan dan memperkeras tanah jika tidak diimbangi pupuk organik. “Kalau terlalu sedikit, pertumbuhan terhambat; kalau terlalu banyak, biaya boros dan tanaman rentan hama,” ucapnya.

Untuk tepat waktu dan tepat cara, Iqbal menyarankan agar pemupukan dilakukan pada fase vegetatif atau generatif sesuai kebutuhan, serta menggunakan metode tabur atau pengocoran yang sesuai jenis pupuk. “Pencampuran urea dan NPK bisa dilakukan langsung, tetapi beberapa pupuk lain membutuhkan perlakuan khusus,” ujarnya.

Prinsip tepat tempat mengacu pada pemberian pupuk di lokasi yang sesuai dengan akar tanaman. Hal ini mencegah pemborosan dan memastikan unsur hara terserap optimal. Iqbal menekankan bahwa pemahaman ini penting tidak hanya bagi petani lahan luas, tetapi juga bagi masyarakat yang menanam di pekarangan atau polibag. “Pemupukan berlebihan di polibag bisa menyebabkan tanaman ‘terbakar’ atau menguning,” katanya.

Dengan penerapan prinsip 5T, petani di Kalimantan Timur dapat meningkatkan produktivitas secara efisien dan ramah lingkungan. “Secara tidak langsung, banyak petani sudah menerapkan konsep ini, meski belum mengenal istilah 5T. Sekarang, mereka bisa lebih sistematis dalam bertani,” ucap Iqbal, mengakhiri sesi dialog.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....