Makna Kembali ke Fitrah di Hari Kemenangan
- 27 Mar 2026 07:53 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Puasa adalah di antara jalan yang disediakan agama untuk berjihad menaklukkan nafsu yang ada pada diri manusia. Ketika Idul Fitri tiba, yang disebut sebagai hari kemenangan, namun apakah benar kita mengalami kemenangan?
Kepada RRI, Ustaz KH.M.Khozin mengatakan, menang ketika seseorang telah mengalahkan sesuatu yang telah menjadi lawannya. Sesuatu yang membelenggu, menjajah, menyerang dan menindas.
“ Musuh utama manusia selama puasa Ramadhan sebelum akhirnya merayakan Idul Fitri adalah hawa nafsu," kata Ustaz Khozin.
Rasulullah Saw bersabda, “Kadang orang yang berpuasa tak mendapat hasil dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Kadang pula orang yang qiyamul lail tak memperoleh hasil dari usahanya tersebut kecuali begadang dan rasa letih.”
Ustaz Khozin menjelaskan, bulan Syawal menjadi ukuran bagi seorang muslim untuk memeriksa segenap ibadah, tingkah laku, dan sikap batin kita, apakah mengalami peningkatan mutu, biasa-biasa saja, atau justru mengalami penurunan.
“ Bagaimana tingkat kepekaan kita kepada sesama, terutama yang membutuhkan? Sudah seberapa jauh sifat riya’, ujub, dengki, suka membual, dan bertindak tidak penting menghindar dari diri kita? Dan lain sebagainya,” ucap Ustaz Khozin.
Menurut Ustaz Khozin, tantangan selanjutnya adalah mengungkapkan suka cita pada hari Lebaran dengan penuh makna. Suasana Idul Fitri sejatinya adalah suasana kemanusiaan. Momen untuk kian berempati dengan sesama, membuka pintu maaf, serta melepas gengsi untuk mengakui kesalahan lalu meminta maaf.
“ Semoga Idul Fitri benar-benar menjadi momentum yang sesuai dengan artinya, yakni kembali ke kondisi fitrah. Kembali ke jati diri kemanusiaan kita sebagai hamba Allah yang total, kembali tabiat asli manusia sebagai makhluk sosial, dan kembali kepada naluri manusia sebagai makhluk penyayang terhadap lingkungan dan alam secara luas, “ kata Ustaz Khozin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....