Makna Hijrah dan Kisah Keteladanan Nabi
- 17 Mar 2026 18:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda — Istilah hijrah kian populer di tengah masyarakat, terutama di media sosial. Tidak sedikit orang menggunakan kata tersebut sebagai simbol perubahan diri. Namun, pemaknaan hijrah sering kali menyempit sekadar label sosial. Hal ini diluruskan oleh Muhammad Hafi dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samarinda yang menegaskan, hijrah memiliki makna jauh lebih dalam.
Menurutnya, secara bahasa hijrah berarti meninggalkan sesuatu dan berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. Pendapat ini sejalan dengan penjelasan ulama seperti Ibnu Faris dan Ibnu Manzur dalam kitab Lisanul Arab, yang memaknai hijrah sebagai tindakan meninggalkan dan berpindah.
“Hijrah bukan sekadar ucapan atau tren. Banyak orang mengaku ingin hijrah, tetapi perlu dilihat kembali niatnya. Apakah benar karena Allah dan Rasul-Nya, atau hanya dorongan dunia dan pengakuan sosial,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya niat dalam berhijrah. Niat harus dilandasi harapan akan rida, ampunan, dan pahala dari Allah, bukan demi popularitas atau mengikuti arus. Dalam ajaran Islam, hijrah tidak terbatas pada perpindahan fisik, melainkan perubahan menyeluruh dalam diri.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” Hadis ini menegaskan, esensi hijrah terletak pada meninggalkan dosa dan maksiat serta menjalankan perintah-Nya.
“Hijrah bukan soal mengganti pakaian, bukan sekadar berpindah komunitas, dan bukan istilah semata. Hijrah adalah perubahan nyata dari kebiasaan buruk menuju perilaku yang diridai Allah,” katanya.
Ketika membahas hijrah, umat Islam tidak bisa lepas dari peristiwa besar dalam sejarah, yakni perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah sekitar 1.400 tahun lalu. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan Islam.
Hijrah Nabi bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan bentuk pengorbanan luar biasa. Nabi rela meninggalkan tanah kelahiran, rumah, harta, hingga keluarga demi menegakkan agama Islam. Perjalanan tersebut juga penuh ujian, mulai dari gangguan hingga ancaman dari kaum Quraisy.
Hijrah dilakukan atas perintah Allah, dengan tujuan menjaga dan mengembangkan dakwah Islam. Di Madinah, Nabi membangun fondasi masyarakat Islam yang kuat, menjadikan hijrah sebagai simbol perjuangan, kesabaran, dan keteguhan iman.
“Hijrah Nabi menunjukkan makna sejati hijrah, yaitu berpindah dari kondisi yang buruk menuju kondisi yang lebih baik, baik secara tempat maupun keadaan diri,” katanya, menambahkan.
Ia menambahkan, hijrah tidak berhenti pada satu peristiwa. Hijrah merupakan proses panjang sepanjang kehidupan. Setiap Muslim dituntut terus berusaha meninggalkan keburukan dan memperbaiki diri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....