Memaknai Lailatul Qadar di Tengah Perbedaan Awal Ramadan
- 14 Mar 2026 21:34 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ramadan selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Salah satu keutamaan terbesar di bulan suci ini adalah hadirnya Laylatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun dalam praktiknya, umat Islam sering menghadapi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, yang kerap menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana memahami Laylatul Qadar di tengah perbedaan tersebut.
Hal ini diulas dalam program “Mutiara Ramadan” Pro 1 RRI Samarinda yang menghadirkan narasumber Mustamin Fattah, dosen dari UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda. Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa Laylatul Qadar merupakan malam penuh kemuliaan yang terjadi setiap bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir.
Menurutnya, Al-Qur’an menegaskan keutamaan malam tersebut melalui firman Allah dalam Surah Al-Qadr yang menyebutkan bahwa Laylatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, satu malam ibadah pada saat itu memiliki nilai yang setara dengan puluhan tahun ibadah manusia. Keutamaan inilah yang membuat umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Namun demikian, Mustamin menjelaskan bahwa Allah tidak menentukan secara pasti kapan tanggal terjadinya Laylatul Qadar. Rasulullah SAW hanya menganjurkan umat Islam untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. “Laylatul Qadar itu pasti terjadi setiap Ramadan, tetapi waktunya dirahasiakan oleh Allah agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan ibadah di sepuluh malam terakhir,” ujarnya.
Perbedaan penentuan awal Ramadan, lanjutnya, biasanya disebabkan oleh perbedaan metode dalam menentukan munculnya hilal. Sebagian menggunakan metode rukyat atau pengamatan langsung terhadap bulan, sementara sebagian lainnya menggunakan hisab atau perhitungan astronomi. Perbedaan tersebut telah lama dikenal dalam tradisi fikih Islam dan dipandang sebagai bentuk ijtihad para ulama.
Mustamin menegaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan awal Ramadan, para ulama sepakat bahwa Laylatul Qadar hanya terjadi satu kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Ramadan. Perbedaan penanggalan hanya memengaruhi cara umat Islam mencarinya, bukan keberadaan malam itu sendiri. “Para ulama sepakat bahwa Laylatul Qadar hanya terjadi satu kali dalam satu tahun di bulan Ramadan. Karena itu, umat Islam tidak perlu memperdebatkan apakah malam itu ganjil atau genap, tetapi fokuslah pada kesungguhan beribadah,” katanya.
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya Laylatul Qadar adalah agar umat Islam terus bersemangat dalam beribadah sepanjang Ramadan, khususnya di sepuluh malam terakhir. Dengan demikian, umat tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu, tetapi berusaha menghidupkan seluruh malam dengan berbagai amal seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, dan istighfar.
Dalam pandangannya, perbedaan yang terjadi di tengah umat seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kedewasaan dalam beragama serta sikap saling menghormati. Islam, katanya, adalah agama yang luas dan penuh toleransi terhadap perbedaan ijtihad.
Mustamin juga mengingatkan bahwa hakikat Laylatul Qadar bukan sekadar menemukan malam tertentu, tetapi bagaimana Ramadan mampu menghadirkan perubahan dalam hati dan perilaku manusia. “Yang paling penting bukanlah mengetahui kapan Laylatul Qadar terjadi, tetapi apakah Ramadan mampu mengubah hati kita menjadi lebih bersih, lebih tunduk kepada Allah, dan lebih baik dalam akhlak,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....