Bubur Peca, Jejak Rasa dan Ibadah Ramadan
- 27 Feb 2026 10:36 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Ragam tradisi Nusantara kembali mengemuka dalam program Siaran Berjaringan Suara Budaya Nusantara, yang mempertemukan Pro 4 RRI dari berbagai daerah. Pada edisi kali ini, perbincangan hangat mengangkat jejak sejarah Bubur Peca dari Samarinda bersama narasumber Ishak Ismail, Pengurus Masjid Shirathal Mustaqim sekaligus Sekretaris Umum.
Ishak Ismail menjelaskan bahwa tradisi Bubur Peca telah diwariskan turun-temurun sejak masa Haji Salemah, sosok yang pertama kali memegang resepnya. Hingga kini, resep tersebut tetap dijaga oleh generasi ketiga dan keempat keluarganya. “Sampai sekarang masih bisa dirasakan. Sudah generasi ketiga, keempat yang memasak bubur peca itu,” ujarnya. Konsistensi inilah yang membuat cita rasa dan nilai tradisinya tetap autentik setiap Ramadan.
Bubur Peca dipilih sebagai menu khas Ramadan karena bahan-bahannya sederhana dan mudah ditemukan. Beras sebagai bahan utama dipadukan dengan rempah seperti kunyit, jahe, dan lengkuas, menghasilkan warna kuning menyerupai nasi kuning dengan tekstur lembut atau “peca” dalam istilah Bugis, yang berarti lembek. Tekstur ini dinilai ramah untuk perut setelah seharian berpuasa. Lauknya pun variatif setiap hari, mulai dari telur, ikan, daging sapi, hingga kerang menambah kekayaan rasa dalam setiap sajian.
Lebih dari sekadar kuliner, Bubur Peca mengandung filosofi mendalam. Ramadan dimaknai sebagai momentum memperkuat hubungan vertikal kepada Allah Swt (hablum minallah) sekaligus mempererat hubungan horizontal antarsesama (hablum minannas). Setiap sore selepas Asar, ratusan warga memadati masjid untuk berbuka bersama. Tak hanya jemaah tetap, masyarakat dari berbagai kecamatan di Samarinda, bahkan dari luar daerah seperti Tenggarong dan kota lain di Kalimantan Timur, turut datang untuk mencicipi hidangan ini.
| Baca juga: Bersihkan Hati dengan Taubat Nasuha |
Menariknya, partisipasi generasi muda sangat dominan. Sekitar 80 persen proses memasak hingga penyajian melibatkan remaja masjid. Para ibu berperan membina dan menjaga keaslian resep, sementara anak-anak muda menjadi motor pelaksana di lapangan. “Sebelum Ramadan pun mereka sudah bertanya, kapan bubur peca dimulai,” kata Ishak. Semangat regenerasi ini menjadi kunci lestarinya tradisi.
Setiap hari selama Ramadan, Bubur Peca disajikan tanpa putus, dengan jumlah porsi mencapai 200 hingga 500 mangkuk. Warga sekitar bahkan membawa rantang dari rumah untuk dibagikan kepada keluarga. Tradisi berbagi ini memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat Samarinda Seberang, wilayah tertua di kota yang dipisahkan oleh Sungai Mahakam.
Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan turut memberi perhatian dengan menetapkan Bubur Peca sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Bahkan, sajian ini rutin dihidangkan saat peringatan hari jadi kota. Tak berhenti di situ, Ishak mengungkapkan harapannya agar Bubur Peca semakin mendunia. “Kemarin kami diminta dukungan untuk nominasi budaya iftar ke UNESCO. Mohon doa seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Bubur Peca membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan rasa, tetapi juga warisan nilai tentang kebersamaan, pengabdian, dan identitas budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....