Menjaga Lisan, Amalan Sederhana Bernilai Besar di Bulan Ramadan
- 24 Feb 2026 11:06 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Amalan sederhana sering kali dipandang remeh karena dianggap bernilai kecil. Padahal, setiap tindakan kebaikan sekecil apa pun tetap memiliki nilai di sisi Allah, bahkan bisa menjadi ladang pahala yang berlipat ganda. Dalam momentum Ramadan ini, mengingat kembali amalan ringan yang membawa manfaat besar menjadi penting untuk dilakukan.
Salah satu amalan sederhana namun bernilai pahala besar adalah menjaga lisan, termasuk memilih diam dari perkataan buruk. Kebiasaan ini terlihat mudah, tetapi penerapannya membutuhkan kedewasaan dan kesadaran diri yang kuat. Lisan dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga bisa menjadi sebab seseorang terjerumus dalam dosa yang tidak disadari.
Dikutip dari Dialog Tauladan (Tanya Ustaz di Bulan Ramadan) pada Kamis sore, 19 Februari 2026, Muhammad Afiq Almuntadar dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samarinda menyampaikan pesan tentang pentingnya memahami makna diam. “Manusia butuh waktu dua tahun untuk belajar berbicara. Namun seumur hidup kita butuh waktu untuk belajar tentang diam,” ujar Afiq.
Afiq menjelaskan bahwa dosa lisan seperti gibah, fitnah, hingga berbohong sering dianggap sepele. Namun pada kenyataannya, dampak buruk dari ucapan dapat menyakiti orang lain dalam waktu singkat. Ia juga menegaskan bahwa dosa lisan kini tidak hanya muncul dari ucapan langsung, tetapi juga dari aktivitas di media sosial.
Menurut Afiq, banyak orang terjerumus dalam kesalahan ketika terburu-buru berkomentar terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. “Bagaimana kita lihat di media sosial ketika ada berita yang belum tentu jelas dan benar, lantas kita ikut berkomentar di dalamnya. Maka itu termasuk dosa yang kita lakukan, yaitu memfitnah,” ucap Afiq. Ia menegaskan bahwa tulisan yang diketik sama beratnya dengan kata yang terucap.
Diam dari perkataan buruk merupakan amalan yang berat timbangan pahalanya. Dalam penjelasannya, Afiq menukil pesan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu mengenai anjuran Rasulullah salallahu alaihi wassalam agar seseorang memilih untuk berkata baik atau diam. Diam dianggap sebagai pilihan mulia karena dapat mencegah terjadinya konflik dan menyakiti sesama.
Menutup penyampaiannya, Afiq kembali mengingatkan bahwa menjaga lisan sejatinya adalah bentuk pengendalian diri dan tanggung jawab moral. Ucapan yang terjaga bukan hanya mencerminkan akhlak seseorang, tetapi juga menunjukkan bagaimana ia menghargai hubungan dengan sesama manusia. Sikap ini menjadi cermin kehati-hatian seorang muslim dalam menjalani kehidupannya, terutama di bulan Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....