Maroko Tekuk Kanada, Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia
- 05 Jul 2026 10:20 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Jika empat tahun lalu Maroko mengejutkan dunia dengan menembus semifinal Piala Dunia di Qatar, kini Singa Atlas kembali membuktikan bahwa keberhasilan tersebut bukan sekadar kisah satu kali. Maroko memastikan tempat di perempat final Piala Dunia FIFA 2026 usai mengalahkan tuan rumah Kanada 3-0 pada babak 16 besar di Houston, Minggu, 5 Juli 2026.
Dua gol Azzedine Ounahi dan satu gol penutup Soufiane Rahimi memastikan langkah tim asuhan Mohamed Ouahbi terus berlanjut. Pada babak perempat final, Maroko akan menghadapi pemenang laga Prancis kontra Paraguay.
Skor telak tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Justru Kanada tampil lebih berani pada babak pertama. Dukungan publik sendiri membuat tim asuhan Jesse Marsch langsung mengambil inisiatif serangan sejak menit awal.
Jonathan David nyaris membawa Kanada unggul lebih dulu, namun Yassine Bounou tampil sigap menghalau peluang tersebut. Tak lama berselang, kiper Sevilla itu kembali menjadi penyelamat ketika menggagalkan peluang emas Tani Oluwaseyi melalui penyelamatan menggunakan kaki.
Dua penyelamatan tersebut menjadi titik penting pertandingan. Saat Kanada gagal memanfaatkan momentum awal, Maroko perlahan mengambil alih kendali permainan.
Situasi sempat menyulitkan Singa Atlas ketika pencetak gol terbanyak mereka, Ismael Saibari, harus meninggalkan lapangan akibat cedera pada menit ke-22. Namun pergantian itu justru menghadirkan warna baru melalui masuknya Soufiane Rahimi yang langsung memberi ancaman lewat tembakan jarak jauh.
Babak pertama lebih banyak diwarnai duel keras dibanding peluang berbahaya. Ketegangan antara Richie Laryea dan Achraf Hakimi menjadi gambaran panasnya pertandingan. Wasit bahkan mengeluarkan enam kartu kuning sebelum turun minum, jumlah yang lebih banyak daripada total tembakan kedua tim.
Fenomena tersebut menciptakan catatan unik. Sejak data pertandingan mulai dicatat pada 1966, belum pernah ada laga Piala Dunia yang menghasilkan lebih banyak kartu kuning dibanding jumlah tembakan sepanjang babak pertama.
Namun selepas jeda, Maroko memperlihatkan mengapa mereka kini menjadi salah satu kekuatan paling konsisten di dunia.
Gol pembuka lahir melalui kecerdikan Achraf Hakimi. Bek Paris Saint-Germain itu tidak langsung mengirim umpan silang dari tendangan bebas, melainkan memberikan operan mendatar kepada Azzedine Ounahi yang berdiri tanpa kawalan di depan kotak penalti. Gelandang Marseille tersebut kemudian melepaskan tendangan melengkung ke sudut bawah gawang tanpa mampu dijangkau Maxime Crépeau.
Gol itu mengubah sepenuhnya arah pertandingan.
Kanada mencoba merespons dengan memasukkan Cyle Larin, tetapi justru kehilangan ketenangan. Peluang demi peluang gagal dimaksimalkan, sementara Bounou kembali menunjukkan kualitasnya saat menggagalkan tendangan Tajon Buchanan.
Maroko justru tampil semakin berbahaya melalui serangan balik.
Delapan menit menjelang waktu normal berakhir, Brahim Díaz melakukan akselerasi cepat sebelum memberikan bola kepada Ounahi. Dengan satu sentuhan, gelandang berusia 25 tahun tersebut melepaskan tendangan keras ke sudut atas gawang yang memastikan keunggulan 2-0.
Rahimi sebenarnya sempat membentur mistar melalui sundulan beberapa menit kemudian. Namun penyerang Al Ain itu akhirnya mencatatkan namanya di papan skor pada masa injury time setelah menerima umpan matang Brahim Díaz dan menaklukkan Crépeau dalam situasi satu lawan satu.
Selain kemenangan meyakinkan, Maroko juga mencatat sejumlah sejarah.
Ounahi menjadi pemain Maroko pertama yang mencetak dua gol dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak Salaheddine Bassir melakukannya pada 1998. Sementara itu, assist Hakimi membuat bek kanan tersebut mengoleksi tiga assist sepanjang sejarah penampilannya di Piala Dunia, terbanyak yang pernah dicatatkan pemain Afrika.
Catatan Hakimi bahkan menempatkannya sejajar dengan beberapa bek legendaris dunia. Sejak 1966, hanya Cafu, Daley Blind, dan Denzel Dumfries yang memiliki jumlah assist lebih banyak di Piala Dunia.
Bagi Kanada, kekalahan ini terasa pahit karena datang di hadapan publik sendiri. Setelah tampil impresif pada babak sebelumnya, mereka justru gagal mengembangkan permainan ketika menghadapi organisasi bertahan Maroko yang sangat disiplin.
Statistik menunjukkan Kanada memang beberapa kali mampu menciptakan peluang awal, tetapi semakin pertandingan berjalan, efektivitas mereka terus menurun. Sebaliknya, Maroko tampil semakin tenang dan memanfaatkan hampir setiap ruang yang diberikan lawan.
Keberhasilan ini semakin memperkuat reputasi Maroko sebagai spesialis pertandingan fase gugur. Dalam sembilan pertandingan knockout terakhir di turnamen besar, baik Piala Dunia maupun Piala Afrika, Singa Atlas berhasil lolos pada tujuh kesempatan.
Kini tantangan yang lebih berat menanti. Namun setelah kembali menembus perempat final untuk dua edisi Piala Dunia secara beruntun, Maroko telah mengirim pesan yang jelas kepada dunia sepak bola: kisah indah mereka di Qatar 2022 bukanlah sebuah kebetulan, melainkan awal dari lahirnya kekuatan baru sepak bola Afrika.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....