Mesir Menang Adu Penalti, Australia Tersingkir Dramatis

  • 04 Jul 2026 06:44 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Mesir membuktikan bahwa ketangguhan mental sering kali lebih menentukan daripada dominasi permainan. Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, The Pharaohs menundukkan Australia 4-2 melalui adu penalti pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, Sabtu 4 Juli 2026, sekaligus mengamankan tiket bersejarah menuju babak 16 besar.

Kemenangan ini bukan sekadar hasil pertandingan. Bagi Mesir, inilah tonggak baru dalam sejarah sepak bola mereka. Untuk pertama kalinya, negara Afrika Utara tersebut memenangkan pertandingan fase gugur Piala Dunia sekaligus menjadi negara Afrika kedua yang berhasil memenangi adu penalti di putaran final Piala Dunia setelah Maroko.

Pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi sejak awal. Australia sempat mengancam melalui Cristian Volpato, tetapi justru Mesir yang lebih dahulu memecah kebuntuan pada menit ke-13.

Berawal dari skema tendangan bebas yang cerdas, sundulan Emam Ashour memanfaatkan umpan Karim Hafez gagal diantisipasi Patrick Beach. Gol tersebut menjadi bukti bahwa Mesir tidak hanya mengandalkan kecepatan serangan balik, tetapi juga memiliki variasi dalam memanfaatkan situasi bola mati.

Australia sebenarnya mendapat momentum pada awal babak kedua setelah Omar Marmoush gagal memanfaatkan peluang emas hanya beberapa detik setelah kick-off.

Kesempatan yang terbuang itu langsung dibayar mahal.

Menit ke-55, Mohamed Hany justru mencetak gol bunuh diri ketika berusaha menghalau tendangan bebas Aiden O'Neill. Bola sundulannya malah bersarang ke gawang sendiri dan mengubah skor menjadi 1-1.

Gol tersebut membuat Hany mencatat statistik yang tidak diinginkan. Ia menjadi pemain pertama yang mencetak dua gol bunuh diri dalam satu edisi Piala Dunia, sementara turnamen 2026 kini telah menghasilkan 13 gol bunuh diri, rekor terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Namun, berbeda dengan banyak pemain lain yang runtuh setelah melakukan kesalahan fatal, lini belakang Mesir justru mampu bangkit. Hany bersama rekan-rekannya tetap disiplin menjaga organisasi pertahanan hingga pertandingan memasuki babak tambahan.

Pada fase inilah pengalaman Mohamed Salah mulai berbicara.

Meski belum pulih seratus persen dari cedera hamstring, kapten Mesir itu perlahan mengambil kendali permainan. Ia menciptakan lima peluang sepanjang pertandingan, membuat total peluang yang diciptakannya di Piala Dunia 2026 mencapai 16, menyamai catatan gelandang Belgia Leandro Trossard sebagai pemain dengan peluang terbanyak di turnamen.

Salah bahkan nyaris memastikan kemenangan pada awal babak tambahan waktu. Sayang, tendangan volinya dari sudut sempit masih melambung di atas mistar gawang.

Ketika pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti, kepercayaan diri Mesir justru terlihat semakin besar.

Australia memasukkan Mat Ryan khusus untuk adu penalti, tetapi keputusan itu tidak membuahkan hasil. Kiper veteran tersebut gagal menggagalkan satu pun dari empat eksekutor Mesir.

Sebaliknya, tekanan justru menghantam Australia. Harry Souttar mengawali adu penalti dengan tendangan melambung, sementara Lucas Herrington juga gagal setelah sepakannya membentur mistar.

Di sisi lain, seluruh algojo Mesir tampil tanpa cela.

Mohamed Salah menunjukkan kelasnya melalui eksekusi penalti bergaya Panenka yang mengecoh Mat Ryan. Hossam Abdelmaguid kemudian menjadi penentu kemenangan setelah mengarahkan bola ke pojok kiri bawah gawang.

Dari sudut pandang permainan, Australia sebenarnya tampil disiplin. Harry Souttar tampil luar biasa sepanjang laga dengan tiga blok, tujuh sapuan, serta delapan duel udara yang dimenangkan. Namun, seluruh kerja keras tersebut sirna akibat kegagalan saat momen paling menentukan.

Sementara itu, Mesir memperlihatkan karakter yang selama ini sering dipertanyakan dalam turnamen besar.

Tim asuhan mereka tidak memainkan sepak bola paling indah, tetapi memperlihatkan kedewasaan dalam mengelola emosi, bertahan di bawah tekanan, lalu tampil sempurna ketika pertandingan memasuki fase adu mental.

Kini tantangan yang lebih berat telah menanti di babak 16 besar. Namun kemenangan ini memberi sinyal bahwa Mesir bukan lagi sekadar tim yang bergantung kepada Mohamed Salah.

Mereka telah menunjukkan identitas baru: tim yang mampu bertahan, bangkit dari kesalahan, dan tetap tenang ketika seluruh nasib ditentukan dari titik putih. Dalam turnamen sepanjang Piala Dunia, karakter seperti itulah yang sering kali membawa sebuah negara melangkah jauh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....