Meksiko Akhiri Kutukan 40 Tahun, Kini Bidik Perempat Final

  • 01 Jul 2026 14:34 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Meksiko akhirnya mematahkan kutukan yang menghantui mereka selama empat dekade. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukungnya di Estadio Azteca, El Tri menundukkan Ekuador 2-0 pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, Rabu, 1 Juli 2026, sekaligus mencatat kemenangan pertama di fase gugur sejak 1986.

Hasil tersebut bukan sekadar mengantar Meksiko ke babak 16 besar. Lebih dari itu, kemenangan atas tim yang beberapa hari sebelumnya mampu menumbangkan Jerman menjadi pernyataan bahwa El Tri layak diperhitungkan sebagai salah satu kuda hitam dalam perburuan gelar juara dunia di kandang sendiri.

Sejak peluit pertama dibunyikan, Meksiko tampil agresif dan langsung mengendalikan ritme pertandingan. Kepercayaan diri mereka terlihat jelas setelah menyapu bersih tiga laga fase grup tanpa sekali pun kebobolan. Sebaliknya, Ekuador datang dengan modal besar sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik usai menyingkirkan Jerman, membuat duel ini diprediksi berlangsung ketat.

Pertahanan rapat Ekuador akhirnya runtuh pada menit ke-22 lewat sebuah serangan yang dirancang dengan presisi tinggi. Roberto Alvarado mengirim umpan lambung panjang yang membelah garis pertahanan lawan. Julián Quiñones membaca timing dengan sempurna, lolos dari jebakan offside, lalu melepaskan tendangan keras kaki kanan yang tak mampu dihentikan Hernán Galíndez.

Gol tersebut mengguncang Estadio Azteca dan menjadi bukti bahwa Meksiko kini bukan hanya mengandalkan semangat juang, tetapi juga memiliki organisasi serangan yang efektif dan modern.

Belum sempat Ekuador bangkit, Meksiko kembali menghukum mereka sembilan menit berselang. Quiñones kali ini berperan sebagai kreator melalui kombinasi satu-dua cepat bersama Raúl Jiménez di depan kotak penalti. Penyerang Fulham itu menyelesaikannya dengan sentuhan klinis sebelum merayakannya bersama rekan-rekannya di depan publik tuan rumah.

Unggul dua gol membuat Meksiko mengubah pendekatan permainan. Tim asuhan Javier Aguirre lebih memilih menunggu sambil memanfaatkan ruang yang ditinggalkan Ekuador. Pada babak kedua, tim Amerika Selatan itu memang mendominasi penguasaan bola hingga 57 persen, tetapi kesulitan menciptakan peluang bersih karena disiplin lini belakang Meksiko.

Secara statistik, Meksiko justru tampil lebih efektif. Meski hanya menguasai bola 43 persen, El Tri melepaskan 15 tembakan dibandingkan tujuh milik Ekuador. Dari hanya tiga tembakan tepat sasaran, dua di antaranya langsung berbuah gol. Nilai expected goals (xG) Meksiko sebesar 1,02 juga lebih tinggi dibandingkan Ekuador yang hanya menghasilkan 0,73.

Penjaga gawang Raúl Rangel kembali menjadi sosok penting dengan sejumlah penyelamatan krusial. Hingga empat pertandingan, Meksiko menjadi satu-satunya tim di Piala Dunia 2026 yang belum sekalipun kebobolan. Catatan itu semakin menegaskan keseimbangan permainan mereka, tajam saat menyerang sekaligus sangat disiplin ketika bertahan.

Salah satu cerita menarik dari laga ini datang dari Gilberto Mora. Gelandang berusia 17 tahun 259 hari itu menjadi pemain termuda kedua sepanjang sejarah yang menjadi starter pada laga fase gugur Piala Dunia setelah legenda Brasil, Pelé, pada 1958. Meski masih sangat muda, Mora tampil tenang dan percaya diri mengatur permainan di lini tengah serta beberapa kali merepotkan pertahanan Ekuador lewat pergerakan tanpa bola.

Di lini depan, Quiñones menjadi bintang utama. Selain mencetak gol pembuka, ia juga menyumbang assist untuk Jiménez. Pergerakan cerdas dan kecepatan membaca ruang membuat pertahanan Ekuador yang terkenal solid akhirnya kehilangan bentuk sepanjang pertandingan.

Sementara itu, Luis Romo tampil sebagai sosok yang mungkin tidak banyak mendapat sorotan, tetapi berperan besar dalam memutus garis pertahanan Ekuador melalui distribusi bola dan mobilitasnya di lini tengah. Peran Romo membuat Quiñones, Jiménez, dan Mora memiliki ruang untuk menyerang secara vertikal.

Kemenangan ini mengakhiri apa yang selama puluhan tahun dikenal sebagai "La Maldición del Quinto Partido" atau kutukan laga kelima, istilah yang melekat karena Meksiko selalu gagal melangkah lebih jauh sejak menjadi tuan rumah pada 1986.

Namun, bagi skuad El Tri, perjalanan belum selesai. Tantangan berikutnya justru lebih berat. Di babak 16 besar, Meksiko akan kembali bermain di Estadio Azteca menghadapi pemenang duel Inggris kontra Republik Demokratik Kongo.

Dengan rekor empat kemenangan beruntun, pertahanan yang belum kebobolan, dan serangan yang semakin matang, Meksiko kini tidak lagi sekadar menjadi tuan rumah yang menikmati atmosfer turnamen. Mereka mulai menunjukkan kualitas sebagai tim yang berpeluang menciptakan sejarah baru di hadapan publik sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....