Talenta Teknologi Indonesia Ditantang Berani Bersaing di Kontes Robot Nasional

  • 22 Sep 2026 07:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Indonesia memiliki sumber daya manusia dalam jumlah besar, tetapi tantangan ke depan adalah memastikan potensi tersebut tumbuh menjadi kekuatan yang mampu bersaing di tingkat global.

Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mengatakan persoalan utama Indonesia bukan semata-mata jumlah sumber daya manusia, melainkan kemampuan untuk mengembangkan potensi tersebut dengan rasa percaya diri, kompetensi, dan keberanian berinovasi.

Pernyataan itu disampaikan Sultan saat menghadiri pembukaan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Gedung Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, Senin, 21 September 2026.

Sultan mengatakan pengalaman mengikuti berbagai kegiatan internasional membuatnya melihat kemampuan anak-anak Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan peserta dari negara lain. Namun, ia menilai masih terdapat persoalan kepercayaan diri yang perlu diperkuat.

“PR terbesar kita itu adalah sumber daya manusia yang sebenarnya banyak, tetapi mungkin karena kita belum pede atau belum terlalu yakin,” ujar Sultan.

Menurutnya, rasa percaya diri menjadi penting ketika generasi muda Indonesia berhadapan dengan perkembangan teknologi dan persaingan global. Kemampuan akademik dan keterampilan teknis perlu disertai keberanian untuk menunjukkan karya serta menguji kemampuan di ruang yang lebih luas.

KRTI 2026 menjadi salah satu contoh ruang tersebut. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari 43 perguruan tinggi dalam babak final, dengan 94 tim yang berkompetisi melalui lima divisi teknologi pesawat tanpa awak.

Sultan menilai kehadiran peserta dari berbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa kemampuan teknologi tidak hanya dimiliki kampus-kampus besar. Setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan ketika berhadapan langsung dengan tantangan di lapangan.

“Ketika kita bertanding, itu tidak ada namanya perguruan tinggi negeri atau swasta, yang terlihat adalah bagaimana kita bertanding di lapangan,” katanya.

Ia kemudian mendorong mahasiswa agar tidak melihat nama besar institusi sebagai penentu keberhasilan. Menurutnya, ketekunan dan kemampuan mengembangkan diri justru menjadi faktor penting ketika seseorang menghadapi kompetisi.

Sultan juga mengingatkan generasi muda untuk tidak mengukur perkembangan hanya dalam rentang waktu yang panjang. Ia mendorong anak muda membangun kebiasaan untuk terus meningkatkan kemampuan dari waktu ke waktu.

“Saya selalu mengukur pertumbuhan hidup, perkembangan itu jangan dihitung bulanan, apalagi tahunan, kalau bisa harian,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi relevan dengan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Kompetensi yang dibutuhkan beberapa tahun mendatang dapat berbeda dengan kebutuhan saat ini, sehingga kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia.

Menurut Sultan, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menghadapi perubahan tersebut, baik melalui jumlah penduduk usia muda maupun sumber daya alam. Namun, modal itu perlu diikuti dengan peningkatan kualitas manusia agar tidak berhenti menjadi potensi.

Ia mencontohkan KRTI sebagai ajang yang dapat membangun kemampuan tersebut melalui pengalaman langsung. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menghadapi persoalan, bekerja dalam tim, mengembangkan inovasi, dan menguji hasil karya dalam kompetisi.

Sultan juga mengaitkan penguatan sumber daya manusia dengan agenda Indonesia Emas 2045. Generasi muda yang saat ini berada di bangku perguruan tinggi akan menjadi bagian dari kelompok yang mengisi pembangunan Indonesia ketika negara memasuki satu abad kemerdekaan.

“Persiapkan diri dengan baik bahwa Indonesia Emas itu pasti akan datang,” ucapnya.

Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak menempatkan KRTI hanya sebagai perlombaan untuk mendapatkan gelar juara. Pengalaman dalam kompetisi, menurutnya, dapat menjadi bagian dari proses membangun mental, kemampuan, dan jejaring yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan setelah lulus.

Kehadiran KRTI di IKN sekaligus mempertemukan persoalan pengembangan SDM dengan kebutuhan pembangunan kawasan baru. IKN membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami sekaligus mengembangkan teknologi untuk mendukung konsep kota yang berbasis teknologi dan berorientasi pada masa depan.

Bagi mahasiswa Kaltim dan daerah lainnya, kondisi tersebut membuka ruang untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut mengambil bagian dalam menghasilkan inovasi. Tantangannya adalah memastikan kesempatan tersebut diikuti peningkatan kemampuan yang konsisten sejak masa pendidikan.

Dengan demikian, pesan Sultan tidak berhenti pada ajakan untuk percaya diri, tetapi menempatkan peningkatan kompetensi sebagai kebutuhan agar jumlah sumber daya manusia Indonesia benar-benar berubah menjadi kekuatan pembangunan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....