PLTB Dorong Pertanian Sehat dan Organik di Kawasan IKN
- 17 Sep 2026 12:34 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Nusantara – Pengelolaan lahan tanpa bakar atau PLTB didorong menjadi bagian dari pengembangan pertanian sehat di kawasan IKN. OIKN menyiapkan demplot agar petani dapat melihat langsung pengelolaan lahan tanpa bakar sekaligus mempelajari dampaknya terhadap produktivitas tanah.
Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, P. Setia Lenggono, mengatakan penerapan PLTB tidak hanya diarahkan untuk mengurangi risiko kebakaran lahan. Pengelolaan tersebut juga menjadi pintu masuk untuk memperbaiki kualitas tanah dan mendukung produksi pangan yang lebih sehat.
Setia menyampaikan hal tersebut kepada rri.co.id saat pelaksanaan hari terakhir Sekolah Lapang Musim Kemarau dan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Wisata Agro Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kamis, 17 September 2026.
Menurutnya, OIKN akan menyiapkan demplot pengelolaan lahan tanpa bakar sebagai tempat belajar bagi petani. Melalui demplot tersebut, petani dapat melihat praktik pengolahan lahan dan tanaman yang dikembangkan secara langsung.
“Kita akan menyiapkan demplot. Satu demplot yang dikelola dan diolah tanpa melakukan pembakaran, kemudian kita intervensi dengan tanaman-tanaman yang nantinya bisa menjadi tempat untuk belajar,” ujar Setia.
Demplot tersebut juga diarahkan untuk menunjukkan perbedaan kondisi lahan yang dikelola tanpa pembakaran. Menurut Setia, pembakaran dengan suhu tinggi dapat memengaruhi organisme yang berada di dalam tanah dan berperan dalam proses penguraian bahan organik.
Ia menjelaskan, keberadaan mikroorganisme tanah penting bagi tanaman karena membantu menguraikan bahan organik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Karena itu, anggapan bahwa pembakaran otomatis membuat tanah menjadi lebih sehat perlu diluruskan melalui praktik dan edukasi.
“Lahan yang dibakar itu akan mengakibatkan tanah menjadi lebih tidak sehat. Biota-biota di dalam tanah itu akan mati,” ucapnya.
Dalam penerapan PLTB, Setia menyebut terdapat sejumlah pilihan metode, mulai dari cara manual hingga mekanis. Penggunaan alat mekanis dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi membutuhkan biaya yang relatif besar bagi petani.
Sementara itu, metode manual membutuhkan tenaga kerja lebih banyak karena petani harus mengolah tanah dan memasukkan bahan organik dari sisa vegetasi ke dalam lahan. Bahan organik tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan penyubur tanah.
“PLTB ini bisa dilakukan dengan cara mekanik, tetapi mekanik itu membutuhkan biaya yang besar sebagai petani. Kalau manual juga tidak mudah bagi petani karena membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak,” katanya.
Persoalan tenaga kerja menjadi tantangan lain dalam pengembangan pertanian. Setia menyebut sektor pertanian semakin menghadapi keterbatasan sumber daya manusia terutama generasi muda sehingga penggunaan teknologi menjadi salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan.
Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar. Namun, pemilihan metode tetap perlu mempertimbangkan kondisi lahan dan kemampuan ekonomi petani.
Setia mengatakan OIKN juga akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan PLTB setelah rangkaian edukasi selesai. Demplot diharapkan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan agar petani tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori.
“Kita akan upayakan nanti paling tidak di tiap kecamatan itu ada demplot pengolahan lahan tanpa bakar. Di mana petani bisa belajar langsung di situ,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, Setia mengaitkan PLTB dengan pengembangan pertanian sehat dan organik di kawasan IKN. Ia menyebut Direktorat Ketahanan Pangan memiliki arah pengembangan agar pangan yang masuk ke IKN pada 2045 semakin memenuhi prinsip sehat dan organik.
“PLTB ini menjadi jalan masuk sebetulnya untuk kita bisa memproduksi pangan yang sehat dan organik itu,” kata Setia.
Dengan pendekatan tersebut, PLTB tidak hanya ditempatkan sebagai metode pencegahan karhutla. Pengelolaan lahan tanpa bakar juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang menjaga kualitas tanah dan mendukung ketersediaan pangan sehat bagi kawasan IKN.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....